Selasa, 09 Juni 2015

"Pasupati"

   Menyelami Kidung Arjuna 

   Saat Menerima"Pasupati"
 

…. Arjuna dan Dewa Shiva yang sedang menyamar menjadi seorang pemburu, masing-masing masih kuat dengan pendirian, bahwa anak panah yang menancap pada babi itu milik mereka. Perkelahian pun harus terjadi—tidak dapat dihindari. Arjuna sebagai perwakilan manusia memberikan pesan, pengaruh harapan terhadap hasil menyebabkan seseorang menjadi bingung dan mudah tersulut emosinya—mudah diadu domba, ia melupakan moralitas atau sopan santun. Dewa Shiva-pun harus menyadarkan Arjuna akan pamrihnya itu. Arjuna tidak akan menerima senjata Pasupati jika egonya masih tinggi. Karena senjata Pasupati tidak akan diterima jika hati seseorang masih dikeruhkan dengan keangkuhan dan tanpa pengendalian diri.

Rabu, 03 Juni 2015

Pura Majapahit Jembrana

Sejarah Pura Majapahit

 I Putu Heri Dianandika


Keberadaan Pura Majapahit di Desa Pakraman Baluk Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana tidak dapat dipisahkan kaitannya dengan tiga buah kerajaan, yaitu masing–masing kerajaan Mengwi, kerajaan Jembrana dan kerajaan Blambangan atau Malar-Kabat di Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Karena berdasarkan hasil Wawancara dengan informan Suarem (Wawancara 04 Februari 2011) memberikan keterangan bahwa diperkirakan dalam tahun 1764 Masehi, yang menjadi penguasa di kerajaan Mengwi ialah I Gusti Agung Made Kemasan dari Sibang. Gusti Agung Made Kemasan menggantikan raja sebelumnnya yang telah wafat, yaitu Cokorda Munggu/Cokorda Nyoman Alang Kajeng/ raja Mengwi ke III, yang pada saat itu belum bisa menobatkan putra mahkotanya sebagai raja karena masih cukup kecil maka diangkatlah I Gusti Agung Made Kemasan.