Selasa, 23 Februari 2016

Belajar Melalui Alam Semesta

Sarvatah: Belajar Melalui Alam Semesta

".... Sarvasya bhayagato guruh"
[Canakya Nitisastra V.1]

                                         " ...Seluruh alam semesta adalah guru bagi semua".

Alam Semesta adalah Wujud Kongkrit Keberadaan Tuhan
             Sarvatah adalah memperoleh ilmu pengetahuan dengan cara berguru pada keberadaan alam semesta atau semua yang ada di alam semesta. Di setiap personal-personal isi alam semesta baik secara sekala maupun niskala, dalam pandangan Hindu adalah sosok-sosok yang tidak dapat dipisahkan dari keesaan Tuhan. Alam semesta memiliki tangan untuk memberi dan mengambil, memiliki kaki untuk melangkah, memiliki mata untuk melihat, memiliki pikiran untuk berpikir, memiliki mulut untuk menyampaikan sesuatu, memiliki telinga untuk mendengarkan ucapan kita. Dengan kata lain, alam semesta sejatinya adalah wujud terkongkrit dari eksistensi Tuhan. Alam sebagai guru bertutur sangat terang, semuanya  berubah,  kalaupun diperdebatkan semuanya membawa kelebihan dan kekurangan. Siang diganti malam, malam diganti siang. Bila gunung tinggi tentu jurangnya akan dalam. Dan jika kita sadari secara mendalam pesan yang dibawa oleh alam, sebenarnya kita telah menemukan guru besar dalam hidup.

Tahapan memasuki pintu pengetahuan sebenarnya sederhana, pertama-pertama kita hendaknya belajar dari alam, kemudian hidup sesuai dengan prinsip-prinsip alam. Sebagai hasilnya manusia bisa melihat pengetahuan yang indah di balik alam. Sebelum menemukan pengetahuan dari alam, maka manusia akan terus berputar kebingungan dari satu penderitaan kependeritaan lain. Ia yang berguru pada alam semesta ini tahu bahwa sesungguhnya tidaklah benar bahwa alam sedang menghukum, apa yang biasa terlihat sebagai bencana pada prinsipnya adalah semacam surat undangan. Surat undangan  untuk menghadiri kegiatan berguru yang semakin sempurna. Pada awalnya bencana sering terlihat menjadi semacam “cobaan hidup yang menakutkan”, namun sesungguhnya setelah kita alami, bencana adalah semacam guru olah raga yang sedang melatih otot-otot kehidupan agar labih kuat. Berbekalkan otot-otot kehidupan yang biasa terlatih, tentu kita akan terbiasa menyambut semua dualitas [suka dan duka] dengan senyuman manis. Jika begini, bukankah alam sedang memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk kita.

Banyak pelajaran yang terus menerus ditawarkan oleh alam semesta kepada setiap insan manusia. Hendaknya kita sadar, bahwa alam semesta sering menyampaikan penerangan dan cahayanya melalui berbagai cara. Baik melalui bencana alam, keanekaragaman, keindahan dan lain sebagainya yang sering terlupakan oleh manusia. Oleh karena itu jika dipandang secara duniawi, jalan ini memang akan terlihat berbeda secara personal, namun secara kebijaksanaan spiritual atau dengan kesadaran spiritual yang universal, kelima jalan ini adalah guru-guru suci dan mulia yang memiliki hakikat kesatuan kebenaran yang sama, yang selalu menawarkan pelajaran mulia disetiap saat. Di dalam bentuk atau tanpa bentuk, namun bila kita memiliki sedikit kebijaksanaan untuk memahaminya, dia adalah sosok guru [guru universal].

Pada dasarnya dalam pandangan Hindu sesuatu hal yang bijaksana baik dalam hal duniawi maupun spiritual adalah guru secara universal, oleh karena itu gelar guru sebenarnya tidak terbatas pada wujud manusia saja. Mengapa…!, karena kata guru berasal dari bahasa Sanskerta memiliki makna yang sangat luas, yaitu berakar kata “Gu” yang berarti kebodohan dan “Ru”  berarti menyingkirkan, sehingga mereka yang disebut dengan guru adalah bagaikan para Dewa, sosok yang mampu menyingkirkan kebodohan [ajnana] seseorang menuju kebijaksanaan [vivekajnana].  Seperti yang tersabdakan dalam Rg Veda X.65.7 “divaksaso agnijihva rtavrdhah—para guru adalah penyebar [penerus] kebenaran, para orator yang cemerlang dan suci bagaikan memiliki tubuh kedewataan”. Sifat guru sejati adalah rahasia, terkadang sering tidak nampak dalam jangkauan kita. Akan tetapi alangkah baiknya sebagai seorang pemula, untuk lebih banyak mengenal guru dan fungsi guru agar kita dibimbing, dituntun, dalam kehidupan ini untuk menuju ke sumber kebahagiaan.


Isa Upanisad: Isvara di Seluruh Semesta

Isvara di Seluruh Semesta

Om Namah Shivaya....
Upanisad adalah bagian pustaka Veda yang muncul dibagian akhir Veda, yakni setelah Samhita, Brahmana dan Aranyaka. Jika Samhita dapat dikatakan sebagai pohon, Brahmana adalah bunganya, Aranyaka adalah buahnya, buah yang belum matang. Upanisad adalah buah yang sudah matang. Kematangan Upanisad tentu berangkaian dari perjalanan ketiga pustaka-pustaka sebelumnya. Upanisad menekankan cara langsung peyadaran diri melalui jalan ilmu pengetahuan [Jnana Marga], ketunggalan [Abheda] jiwa dengan Yang Maha Tertinggi. Dan secara esensial Upanisad menyampaikan tema tentang penyelidikan falsafah dan berhubungan dengan keadaan pikiran yang bebas dari belenggu materialisme.

Keistimewaan dari Upanisad yang tidak dimiliki oleh sistem dalam filosofi lain adalah, eksistensinya mengandung mantra yang menerjemahkan pemikiran filosofis dari bantuan getaran mantra pengalaman nyata. Jika seseorang belajar hidup dengan apa yang diajarkan di dalamnya maka akan mendapat kemurnian pikiran. Karena Upanisad bukanlah hanya sekedar latihan mental tetapi juga sebagai jalan hidup, seperti apa adanya. Hal inilah yang menyebabkan Upanisad menjadi batang tubuh saripati Veda [Vedanta].

Demikian pula dengan Isa Upanisad yang menjadi sub bagian dalam saripati Veda yang dirumuskan oleh Adi Sankaracharya, yang menekankan doktrin non-dualis [Advaita]. Isa atau Eesa adalah Eesaavaasya Upanisad. Ia disebut demikian karena ia muncul dimulai dengan kata-kata “Eesa Vaasyam”. Konsep ketuhanan dalam Isa Upanisad dimulai dengan menyebutkan bahwa Isa, Isvara atau Tuhan berada diseluruh semesta dan kita harus mencapai kesadaran Paramatma Tattva. Isa yang mutlak, yang Impersonal, seperti mantra berikut.

"Isavasyam idam sarvam yat kinca jagatyam jagat...."
[Isa Upanisad, 1]

"Tuhan Yang Maha Esa memiliki dan mengendalikan segala sesuatu yang ada di alam semesta baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak...."

Mantra ini memberikan pengertian bahwa alam semesta ini tidak dapat dipisahkan dari satu sistem dalam satu kesatuan alam semesta. Dan semua sistem-sistem yang berantai dalam semesta adalah atas dasar kendali [Avasyam] Beliau.  Mantra ini ingin mengisaratkan bahwa tidak ada tempat dimana Beliau tidak ada. Ibarat tangan misalnya, tangan akan dikatakan sebagai tangan yang bernyawa jika tangan itu masih melekat di badan yang merupakan kesatuan kesempurnaan badan itu sendiri. Namun jika tangan itu terpotong, tangan tetap akan terlihat sebagai tangan, akan tetapi tangan itu tidak bernyawa. Ia akan ada bersama kehampaan, kepalsuan, tanpa kesadaran [Maya].

Hal ini menunjukkan bahwa dunia ini berada di antara Realitas [Isa] dan Non Realitas [konsep yang tidak dapat menjadi objek pengalaman]. Karena itu dikatakan dunia ini bukan realitas  dan bukan pula mutlak non realitas. Dengan cara lain dapat dikatakan dunia ini tidak memiliki hakikat sendiri, ia bergantung pada keberadaan yang lain, yaitu Isa, dan dunia ini hanya ada untuk sementara. Sementara disini berarti, sekitar 432 milyar tahun yang disebut satu siang Brahma. Setelah itu dunia mengalami devolusi atau mengkerut secara perlahan dan lenyap dalam Isa, selama waktu yang sama, selama itu tidak ada penciptaan, ini disebut satu malam Brahma. Setelah itu muncul kembali kehidupan secara perlahan [evolusi] yang berlangsung selama satu siang Brahma. Demikian seterusnya. Jadi kalau dunia atau alam semesta ini mengalami keadaan ada dan tiada, perubahan terus menerus [Samsara], namun Isa selamanya ada, abadi. Demikianlah keutuhan, kesatuan alam semesta yang disempurnakan oleh Beliau sebagai pengendali [Isa].

Sebagaimana halnya si pande besi, maka besi yang dikerjakannya dengan alat-alatnya seperti paron, palu, supit, kikir, semua itu sesungguhnya adalah besi yang satu juga. Demikian besi bahan dibuat keris oleh si pande. Keris itu ada banyak jenisnya, ada keris sebagai senjata sang raja, ada keris sebagai senjata seorang petani, ada keris sebagai seorang pendeta. Sesungguhnya semua itu dikenal dengan nama keris sebagai senjata, hanya cara membuatnya bermacam-macam. Selama besi itu runcing, maka selama itu keris namanya. Keris yang ada pada raja, seperti mamalya, sangkuh, tombak yang merupakan sarana berperang mencabut nyawa. Keris yang ada pada petani, seperti pisau pemotong, kapak, sebagai sarana untuk mencari nafkah dan lain sebagainya.

Hal ini dapat dimaknai bahwa, eksistensi Isa dan Atman hakikatnya adalah sama, sehingga sesungguhnya Atman adalah Isa itu sendiri, Ada dan Yang Nyata. Hanya Atman yang masuk dalam tubuh tampak berbeda bentuk tubuhnya. Ia bisa berwujud binatang, pohon, bebatuan, manusia dengan berbagai inteleknya atau bahkan para Deva. Demikianlah bagaikan keris yang sama-sama terbuat dari besi tapi berbeda-beda bentuknya sesuai dengan keteraturan hukum alam [Rtam]. Walaupun berbeda, tetapi besi-lah hakikatnya. Isa bersifat meresap keseluruh ciptaan-Nya. Artinya, bagaimanapun keadaan makhluk-makhluk itu, baik kaya-miskin, lemah-kuat, jahat-baik semua dalam pengetahuan Isa sebelum ia tercipta. Sehingga tidak perlu bingung dengan keadaan ini, sebab keberadaan kita sepenuhnya berada dalam genggaman Isa.

Di dalam Bhagavad Gita VII.4-5 juga demikian dinyatakan bahwa “Tanah, air, api, udara, angkasa, pikiran, kecerdasan dan keakuan yang palsu—secara keseluruhan delapan unsur ini tenaga-tenaga material yang terpisah dari-Ku” dan “Wahai Arjuna yang berlengan perkasa, disamping tenaga-tenaga tersebut adapula tenaga-Ku yang lain bersifat utama, terdiri dari para makhluk hidup, yang menggunakan sumber-sumber alam material yang rendah tersebut”. Sangat jelas bahwa makhluk hidup adalah merupakan bagian Alam Utama [Tenaga Utama—Isa].

Tanah, air, api, udara, angkasa, pikiran, kecerdasan dan keakuan yang palsu adalah tenaga yang rendah atau wujud keris, yang terkadang membuat kita lupa bahwa keris itu adalah besi. Makhluk hidup yang menggerakkan alam rendah dalam berbagai tujuan adalah Tenaga Utama sendiri atau besi yang jika kita sadari akan hakekat ini tidak akan membuat kita bingung, karena besi tetaplah besi. Artinya, tidak akan ada yang mampu bergerak tanpa kendali-Nya. Tenaga-tenaga akan selalu dikendalikan oleh Tenaga Utama. Makhluk hidup tidak memiliki eksistensi sendiri. Isa Upanisad menyebut Tenaga yang mengendalikan atau Isa ibarat api, sedangkan panasnya adalah energi yang menyertai setiap makhluk di alam semesta. Itulah sebabnya, seperti halnya panas yang adalah bagian api sendiri Tuhan lebih cepat daripada pikiran. Seperti mantra berikutnya.

"Anejad ekam manaso javio
Nainad deva apnuvan purvam arsat
Tad dhavato ‘nyan atyeti tisthat
Tasminn apo matarisva dadhati"
[Isa Upanisad, 4]
                                                           
"Walaupun senantiasa berada di kediaman-Nya, Tuhan Yang Maha Esa lebih cepat daripada pikiran dan dapat mengungguli semua sosok lain yang berlari. Para Deva yang perkasa tidak dapat mendekati Dia. Walaupun berada disatu tempat, Dia mengendalikan penyedia angin dan hujan. Kemuliaan-Nya melebihi semua".

Tuhan bersifat mutlak, mutlak dalam hal ini Tuhan sangat sulit dipahami oleh pemahaman manusia biasa, bahkan orang-orang yang tercerahkan sekalipun memiliki batasan pengetahuan tentang hal ini. Dengan potensi-Nya yang sangat sulit dipahami, sekaligus Tuhan dapat menjangkau setiap bagian dari tenaga-Nya yang diciptakan. Disisi lain menunjukkan kendati Tuhan memiliki kediaman disuatu tempat, namun Dia juga berada dimana-mana. Karena setiap tempat adalah kediaman-Nya. Sehingga dipertegas kembali dalam mantra ini bahkan para Deva-pun dikendalikan oleh Beliau. Karena Dia-lah Energi dari para pelari, Dia-lah Energi dari pikiran dan Dia-pula Energi dari para Deva.

Di dalam lingkup yang lebih luas, kita sering tertipu dengan pembungkus material—bahwa kita menganggap alam semesta hanya sebatas badan yang berupa pohon, rumput, batu, pasir dan lain sebagainya yang hanya dapat ditangkap sebatas panca indra kita. Keadaan semacam inilah yang disebut khayalan oleh Sankharacarya dalam teori Advaita-nya. Misalnya seseorang pergi ke ladang, di rerumputan yang lebat terlihat ada seekor ular. Perlahan-lahan didekati ular itu dan akan mengusirnya dengan tongkat. Tetapi begitu dekat, ternyata itu hanya seutas tali. Ketika seseorang jalan-jalan di pantai pada suatu senja. Terlihat ada sepotong perak di atas pasir, lalu orang itu mendekati dengan hati yang berdebar-debar, dan membayangkan akan menjual perak itu dengan harga yang cukup tinggi. Tetapi begitu dekat ternyata hanyalah kulit kerang. Yang dimaksud dalam analogi ini adalah bahwa kita sering menganggap wujud nyata atas dasar penglihatan indra adalah nyata dan abadi.

Padahal jati diri alam semesta adalah Atman yang juga Isa. Isa-lah yang memerintahkan matahari [wujud-wujud yang dianggap abadi] untuk menyinarkan sinarnya ke bumi, namun Isa tidak ditutupi oleh cahaya matahari itu sendiri. Contoh yang lebih dekat, di malam yang gelap kita mengendarai mobil, tiba-tiba seorang polisi meminta kita untuk meminggirkan mobil ke tepian jalan. Setelah menepi pak polisi mengarahkan sinar senternya ke wajah kita, karena kita dianggap melanggar rambu lalu lintas. Karena sorotan cahaya lampu senter itu, kita tidak dapat melihat wajah pak polisi, sementara pak polisi dapat melihat wajah kita dengan jelas.  Itulah sebabnya dalam Isa Upanisad 16 dijelaskan “Wahai Isa... mohon menyingkirkan kecermelangan cahaya rohani-Mu, supaya hamba dapat melihat wujud kebahagiaan-Mu….”.

Antara matahari dan sinarnya ada kesatuan. Begitu juga antara Isa dan seluruh makhluk hidup ada persatuan. Matahari itu satu namun jumlah atom-atom sinar matahari tidak terhitung jumlahnya. Sinar matahari adalah bagian dari matahari. Dan matahari serta sinar matahari menyusun matahari yang menjadikan ia lengkap dan sempurna. Jadi sinar yang sering menyilaukan kita, yang sering membuat kita  heran dan takjub bersumber dan dikendalikan oleh Isa. Inilah sinar yang mengalir dari badan Isa, sinar inilah disebut Atman bukan badan. Dari kediaman-Nya-lah segala energi mengalir. Selanjutnya, hal serupa juga dijelaskan dalam mantra berikut.

  “Tad ejati tan naijati
   Tad dure tad u antike
   Tad antar asya sarvasya
     Tad u sarvasyasya bahyatah”
      [Isa Upanisad, 5]

“Tuhan Yang Maha Esa berjalan kaki dan tidak berjalan kaki. Tuhan sangat jauh dari kita, tetapi Dia juga dekat sekali. Tuhan ada di dalam segala sesuatu, namun Dia juga di luar segala sesuatu”.

Hal ini kembali menunjukkan bagaimana kehebatan Isa sebagai sumber energi. “Isa  berjalan kaki dan tidak berjalan kaki, jauh dan juga dekat” mungkin terlihat sebagai kontradiksi. Namun kontradiksi ini hanya ingin menunjukkan kehebatan Isa yang melampaui keterbatasan pikiran kita. Alam semesta yang senantiasa berekspansi ada di dalam-Nya. Isa meliputi segala sesuatu. Seperti udara, tidak kemana-mana, tetapi berada dimana-mana. Itulah kebenaran sejati dan itulah Jati Diri kita. Itulah Isa. Sekali lagi kita akan kesulitan untuk memahami lewat panca indra, begitu juga lewat pikiran—tidak bisa. Karena Isa lebih cepat dari segalanya, kendati demikian Isa tidak bergerak. Bandingkanlah dengan badan yang dapat dipahami oleh pikiran dan indra. Karena badan tidak bisa berada dimana-mana maka badan harus menempuh perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Dapat dikatakan Kebenaran Sejati [Isa—Atman] ibarat udara, tidak kemana-mana, tidak perlu kemana-mana karena sudah berada dimana-mana.

Alasan kuat semacam inilah yang sering digunakan Mahatma Gandhi dalam setiap dialognya dengan misionaris Kristen. Gandhi berkata “Saya menyatakan diri saya sebagai manusia yang beragama dan taat sembahyang dan bila saya dipotong berkeping-keping, Tuhan akan memberikan saya kekuatan untuk tidak menolak-Nya dan untuk menegaskan bahwa Dia ada. Orang Islam mengatakan tidak ada yang lain selain Dia, orang Kristen mengatakan hal yang sama dan demikian juga orang Hindu, dan bila saya diijinkan mengatakan hal yang demikian, maka orang Budha pun mengatakan hal yang sama walaupun dalam kata-kata yang berbeda, masing-masing dari kita bisa membuat penafsiran kita sendiri atas Tuhan. Tuhan meliputi tidak hanya planet bumi yang kecil ini tapi jutaan dan miliaran planet-planet yang lainnya. Bagaiamana kita makhluk kecil yang lemah begitu tidak berdaya sebagaimana Dia telah menciptakan kita, bagaimana mungkin kita dapat mengukur kebesaran-Nya, kasih-Nya yang tiada batas dan cinta-Nya yang tiada bertepi, sehingga Dia mengijinkan manusia secara biadab, menolak-Nya, bertengkar tentang-Nya dan memotong leher kawannya? Bagaimana kita mengukur kebesaran Tuhan Yang Maha Pemaaf dan Maha Suci? Jadi kita bisa mengucapkan kata yang sama tapi tidak memiliki makna yang sama bagi kita semua…..”.

Lalu bagiamana dengan tempat-tempat ibadah yang ada di luar? Bagaimana peran Mandir, Masjid dan Gereja, apa peran mereka? Tempat-tempat ibadah setiap agama memiliki tujuan sama. Tempat ibadah yang berada di luar hanyalah sebagai pembantu kita untuk menembus pikiran—melampaui mind. Peran ini sudah terlupakan, dan tempat-tempat ibadah-pun kehilangan kegunaannya. Jika peran ini dikembalikan. Tempat-tempat ibadah kita bisa menjadi sarana meditasi. Arca-arca di dalam Mandir mengingatkan kita bahwa Tuhan ada dimana-mana. Jika Dia meliputi segala sesuatu maka batu-pun diliputi-Nya. Air dan angin-pun Ia liputi. Sungai-pun berada di dalam-Nya—dan seluruh alam semesta berada dalam pelukan-Nya.

Itulah sebabnya jika kita mencari lingkar luarnya tidak akan pernah kita temukan. Mereka-mereka yang berusaha mencari-cari lingkar luar kemahakuasaan Isa akan merasa kelelahan. Sehingga sampailah mereka pada kesimpulan bahwa Isa itu tidak ada, mereka tidak percaya dan mereka-mereka inilah yang disebut atheis. Orang atheis bukan berarti ia tidak percaya pada Tuhan, karena sebenarnya tidak ada orang yang tidak percaya pada Tuhan. Mungkin bahasa yang tepat bagi orang-orang semacam atheis adalah orang itu sedang “Sakit”. Jika kita sakit gigi, betapapun enak dan lezat makanan yang ada di depan kita, maka akan dikatakan tidak enak dan mungkin menakutkan. Tapi jika kita sudah sembuh dari “Sakit” makanan pun terasa menggairahkan dan enak saat kita memakannya, apalagi perut sedang lapar. Walau orang itu “Sakit” namun ia masih menyayangi dirinya sendiri. “Menyayangi” diri sendiri adalah menyanyangi Sang Aku juga, karena Sang Aku ada dalam dirinya—dan “menyayangi” dirinya berarti juga sedang memuja Sang Aku.

Setiap orang yang mencari Tuhan di luar akan kecewa. Karena lingkar luar-Nya tidak akan terjangkau oleh panca indra kita. Jika Isa meliputi segala-galanya, mantra ini seolah-olah mengarahkan mencari Isa ke dalam diri yang paling baik. Setiap organ dalam tubuh kita tentu diliputi oleh-Nya, setiap sel dalam tubuh juga diliputi oleh Dia. Semua terjadi dalam Dia. Oleh karena itu, setelah memperoleh pencerahan seorang meditator akan berhenti, tidak kemana-mana lagi. Meskipun jika ia berkeinginan untuk bergerak itu hanya untuk kita yang belum sadar. Bahkan pada saat itupun sesungguhnya ia tidak bergerak, namun kita melihat kesan bahwa ia bergerak. Inilah ketuhanan Mutlak Impersonal dalam Isa Upanisad.

Yas tu sarvani bhutani, Etmani evanupasyati
Sarva bhutesu catmanam, Tato navijugupsate.
Yasmin sarvani bhutany, Atmaivabhud vijanatah
Tatra ko mohah kah soka, Ekatvam anupasyatah".
                                                                           

                                                                 [Isa Upanisad, 6-7]

"Orang yang secara sistematis melihat segala sesuatu      berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, dan melihat semua makhluk hidup sebagai bagian-bagian percikan Tuhan, dan melihat Tuhan dalam segala sesuatu, tidak pernah merasa benci pada sesuatu atau kepada makhluk manapun. Orang yang selalu melihat semua makhluk hidup sebagai percikan spiritual, satu sifat dengan Tuhan, menjadi orang yang mengetahui berbagai hal dengan sebenarnya. Dengan demikian, hal apa yang dapatmenjadi khayalan atau kecemasan bagi orang itu?"

Berdasarkan pengetahuan Veda pada umumnya, kita semua telah menyadari bahwa setiap makhluk adalah percikan dari energi Tuhan. Demikian pula dalam Isa Upanisad menekankan seluruh makhluk hidup adalah percikan-percikan Tuhan.  Namun yang lebih penting adalah, Isa Upanisad mengatakan setiap percikan di alam semesta diberikan energi [Atman] dari Energi Utama [Isa—Paramaatman] untuk bertindak sesuai dengan kehendak Energi Utama. Maksudnya adalah, apabila makhluk hidup dalam hal ini manusia lupa akan  Atman itu, yang seharusnya bergerak dari kesadaran Atman sendiri, maka dia dianggap berada dalam maya.

Samadhi atau Anubhava adalah pengalaman yang sangat membahagiakan dari persatuan dengan Yang Maha Suci—cenderung menggoda seseorang untuk mengabaikan dunia dengan segala “Cacat” dan “Ketidak sempurnaan” dan melihatnya sebagai mimpi yang mengganggu dan tidak bahagia. Jalinan nyata dari dunia, dengan cinta dan benci, dengan konflik dan perang, dengan kecemburuan dan persaingan dan pertolongan yang tidak diminta, upaya pemeliharaan intelektual, perjuangan moral sungguh-sungguh kelihatan yang tidak lebih dari mimpi yang tidak substantif, tidak ada isinya, satu phantasmogaria yang menari di atas jalinan Ada [Makhluk—Energi Utama] murni. Dan itu sebabnya manusia sepanjang peradabannya, manusia selalu mencari perlindungan dari dunia yang penuh tekanan, kebingungan, penghinaan, ketakutan akan suatu spirit di luar.

“Kau sedang mencari apa?” Tanya Pak Lurah yang melihat salah seorang warganya sedang kebingungan mondar-mandir di depan rumahnya sendiri.
“Oh…, Pak Lurah, saya sedang mencari kunci saya yang hilang” Jawab si Bedu menerangkan.
 “Lho.... memang kuncinya hilang dimana, Du...?”
“Di dalam, Pak”.
 “Kenapa kamu carinya di luar jika hilangnya di dalam?” sergah Pak Lurah sambil mengerutkan dahinya.
Dengan polosnya Bedu menjawab, “Karena di luar lebih terang Pak”.

Kita semua ingin bahagia, tanpa kecuali, dari mereka yang anak-anak hingga yang telah lanjut usia. Namun semakin maju dunia ini dan semakin dimanjakannya kita oleh teknologi, kenapa kata bahagia jarang didapat?. Karena kita mencarinya di luar. Kita pun sering berpikir bahwa kebahagiaan akan kita temukan di luar. Kita berpikir bahwa jika kita  mencapai apa yang kita inginkan, kita akan merasa bahagia. Namun apa yang terjadi setelah beberapa waktu? Kesenangan apa yang kita kira sebagai kebahagiaan, itu mulai kehilangan warna, seperti pakaian yang mulai kehilangan warna kemilaunya, memudar dan keseganan memakainya pun muncul.

Isa an hana irikang mwang—Isa ada di dalam diri seseorang. satu-satunya cara untuk menemukan kunci yang hilang itu tiada lain dan tiada bukan adalah dengan masuk dan mencarinya ke dalam. “Sekian lama aku memanggil nama-Mu, sambil terus-menerus mengetuk pintu rumah-Mu. Ketika pintu itu terbuka, akupun terhenyak dan mulai menyadari bahwa sesungguhnya selama ini aku telah mengetuk pintu dari dalam rumahku sendiri. Demi Tuhan, ketika kau melihat dirimu sebagai Yang Maha Indah maka kaupun akan menyembah dirimu sendiri” Kata Jalaludin Rumi. Ini artinya kita harus mulai merenung, berdialog dan bertanya pada diri sendiri. Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang semakin dalam tentang apa yang benar-benar kita inginkan dalam hidup ini. Maka jawaban akhir yang akan kita temukan adalah keinginan kita akan kedamaian, semua orang menginginkannya. Dan bila kedamaian adalah jawaban akhir yang kita butuhkan, itu artinya kedamaianlah yang kita butuhkan agar bahagia.

Itulah sebabnya salah satu mantra Brhadaranyaka Upanisad 1.3.28 berbunyi “Bimbinglah kami dari yang tidak nyata, kepada yang nyata, dari kegelapan kepada cahaya, dari kematian menuju kehidupan abadi”. Hal ini mengandaikan perbedaan antara realitas, cahaya dan kehidupan abadi dengan ketidaknyataan, kegelapan dan kematian. Realitas, cahaya dan kehidupan abadi adalah hidup dalam dunia Isa dan ada di dalam diri kita. Ketidaknyataan, kegelapan dan kematian adalah kehidupan yang terus berubah [Samsara] dan ada di luar diri kita. Jika ada seseorang yang mengatakan harus takut pada Tuhan, maka itulah yang disebut kebodohan oleh Shankaracharya. Tentu tidak ada ketakutan dalam Cahaya—Isa, karena  Isa adalah kebenaran, kesadaran dan kebahagiaan abadi [Sat Chit Ananda].

Itulah sebabnya Isa Upanisad 17 berpesan “Biarlah badan ini yang bersifat sementara dibakar menjadi abu dan biarlah udara kehidupan menyatu dengan keseluruhan udara....”. Mantra ini mengisyaratkan kita akan pelepasan,  untuk bahagia manusia tidak memerlukan apa-apa, tidak perlu mencarinya di luar, bahkan tidak perlu usaha yang keras. Semua perangkat kebahagiaan itu ada dan selalu ada dalam setiap diri manusia. Kebahagiaan akan kita dapat dengan cara “membakar badan ini menjadi abu” artinya kebahagiaan akan kita dapatkan dengan cara melepaskan, melepaskan ikatan dari harapan-harapan terhadap hasil yang kita inginkan. Dengan bahasa yang lain, kita patut menerima dan bersyukur dengan apa yang telah terjadi. Namun untuk lebih memperjelas,  yang kita lepaskan bukan keinginan, tapi hasilnya. Melepaskan adalah kegiatan yang sederhana dan tidak membutuhkan energi besar dan sesederhana itulah jika kita inginkan kebahagiaan.

 Tentu dengan alasan tersebut Bhagawad Gita III 42, juga menyatakan  “Bergeraklah dari Atman untuk menguasai budhi, dari budhi [kecerdasan] menguasai manah [pikiran], selanjutnya pikiran menguasai indria”. Bukan bergerak dari objek indria atau pembungkusnya. Oleh karenanya Isa Upanisad 8, menjelaskan “Orang seharusnya mengetahui dengan sebenarnya tentang Insan Tertinggi, Yang Tidak Dibungkus Badan, Maha Tahu, Tidak Dapat Disalahkan, Tidak Memiliki Urat Nadi, Suci dan Tidak Tercemar, Filsuf yang tidak mencukupi diri sendiri yang telah memenuhi keinginan semua orang semenjak masa lampau”. Atman adalah Jati Diri—adalah Kesadaran yang hendaknya menjadi sentral dalam bergerak. Jika kita menyadari setiap insan di alam semesta digerakkan dan diperciki energi dari Energi Utama, maka tidak akan ada lagi peperangan atas nama agama, suku, ras, golongan dan lain sebagainya. Karena kita menyadari semua diliputi oleh Dia. Kita semua akan menerima dengan penuh syukur keberagaman ini.

Perhatikanlah selama ini, kita terbiasa memanjakan eksklusif khususnya dalam beragama. Pertikaian antara agama karena semua agama merasa memiliki Tuhan-nya masing-masing. Pembantaian antar agama terjadi karena mereka merasa memiliki kebenaran sendiri dan hanya ada dalam agamanya sendiri. Isa Upanisad mengajak kita untuk berpikir secara revolusioner. Isa tidak ada dalam agama, Isa tidak ada dalam kitab suci, Isa tidak ada dalam para nabi, mesias, avatara dan buddha. Isa hanya ada dalam diri-Nya saja. Istilah “Diri-Nya” pun tidak cukup untuk menjelaskan-Nya. Namun apa boleh buat kita terbelenggu dengan konsep. Walaupun Dia adalah semuanya [Sarvani].

Jika saja seorang Muslim melihat Kristen dalam Isa dan sebaliknya Kristen melihat Islam dalam Isa, maka saat itu juga mereka akan berhenti saling menghujat, mereka akan lembut. Jika Muslim melihat Gereja dalam Isa, maka mereka tidak akan pernah membakar Gereja. Demikian juga jika Kristen melihat Masjid dalam Isa maka mereka tidak akan merusaknya. Tidak akan ada kebencian dimana-mana [Navijugupsate]. Masalahnya adalah kita sering melihat Isa dalam Masjid, Isa dalam Gereja dan Isa yang berada dalam Masjid dilihat berbeda dengan Isa yang ada di Gereja. Isa Upanisad mengajak kita untuk menyadari bahwa Isa bukanlah monopoli seorang nabi atau salah satu agama, bahkan Dia juga bukan monopoli dunia ini.

Mereka yang merasa berada dalam Isa akan menjadi berkah bagi alam semesta, karena mereka sadar mereka adalah bagian dari semesta, mereka adalah salah satu rantai penghubung dengan rantai-rantai yang lainnya. Mereka tidak berlu memiliki sesuatu, mereka tidak perlu memperebutkan sesuatu, mereka tidak perlu terikat pada sesuatu—semuanya berada dalam Dia. Perlukah kita memiliki bulan dan bintang serta matahari? Perlukah kita memiliki angin dan laut? Tanpa dimilikipun kita tetap mendapatkan manfaatnya. Sehingga inilah jalan satu-satunya untuk menjalani hidup tanpa dibelenggu hukum sebab akibat. Mereka yang hidup tanpa kesadaran demikian, sesungguhnya hidup dalam kesia-siaan, kepalsuan, kegelapan, dan sedang memperkosa diri sendiri. Ia yang memperkosa diri sendiri berarti melupakan jati diri, melupakan potensi energi dalam diri kita. Dan jika memang itu yang terjadi, maka tersia-siakanlah satu masa kehidupan kita. Tersia-siakanlah satu masa yang disediakan oleh Keberadaan, oleh Energi Utama, oleh Isa.

Sadarilah bahwa segala kekuatan diperoleh dari Isa; karena itu disetiap-setiap kekuatan tersebut harus dipergunakan untuk melaksanakan kehendak Isa. Isa akan mudah dikenal bagi orang-orang yang dalam hidupnya penuh pelayanan yang penuh rendah hati. Pengetahuan yang sempurna adalah pengetahuan yang mengetahui bahwa Isa ada dalam setiap sistem kehidupan. Mengetahui tentang tenaga-Nya. Dan mengetahui bagaimana tenaga itu bergerak sesuai kehendak-Nya [Rtam].

Isa seperti api yang tersembunyi dalam batang bambu kering, mesti digosok-gosok dengan tekun sehingga api pencerahan muncul dengan sendirinya. Itulah sebabnya dalam Isa Upanisad 18 dan sebagai mantra terakhir Isa Upanisad mengajak kita untuk sepenuhnya sadar dan berserah diri akan kesemestaan-Nya. “Wahai Isa yang seperkasa api, wahai Yang Maha Kuasa sekarang hamba menghaturkan segala sembah dan sujud pada-Mu, menjatuhkan diri di kaki padma-Mu. Wahai Isa tuntunlah hamba di jalan yang benar untuk mencapai kepada-Mu dan oleh karena Engkau mengetahui segala sesuatu yang telah hamba lakukan pada masa lampau, mohon ampuni hamba dari reaksi-reaksi dosa masa lampau agar tidak ada rintangan bagi kemajuan [spiritual] hamba”.




Senin, 21 Desember 2015

Kepingan Hasrat Arjuna

KEPINGAN HASRAT ARJUNA DI MINTURAGA INDRAKILA


"Engkau mengendalikan seluruh alam semesta, Engkau adalah intisari Kebenaran yang tertinggi, Engkau sungguh bersifat rahasia, kasihMU menyusup dalam ada dan tiada, besar dan kecil serta benar dan salah atau baik dan buruk, Engkau adalah penyebab segala yang ada yang mengalami lahir hidup dan mati, Engkau adalah asal dan kembalinya seluruh jagat, Engkau sesungguhnya nyata dan tidak nyata…"

…lantunan pujian Arjuna kepada Bhatara Shiva memberikan pesan luhur—mengajak kita untuk menerima pengalaman seutuhnya. Suka tanpa duka tidaklah utuh. Panas tanpa dingin tidaklah utuh. Hitam tanpa putih juga tidak utuh. Penerimaan semacam ini mampu membebaskan rasa kesal kita, rasa kecewa kita. Karena suka tidak bisa eksis tanpa duka. Timbunan duka yang makin tinggi itulah kemudian runtuh dan menciptakan kelegaan atau suka. Kemudian jika suka menumpuk pun kita menjadi bosan, jenuh dan akhirnya duka.

Selasa, 08 Desember 2015

Menghormati Guru dari Agama Lain...

“Menghormati Guru dari Agama Lain”

“Vidya gurusvetadeva nitya vrttih svayonisu,
pratisedhatsu cadharman hitam copadisat svapi"
 [Manavadharmasastra, II.206]



 “Demikian juga hendaknya tingkah lakunya kepada guru-guru lain dibidang ilmu pengetahuan, [seorang sisya-pen]harus hormat kepada semua orang yang bisa memberikan nasehat yang baik”

[Sentuhlah kaki guru yang mengajarkan prinsip-prinsip Veda]
Pada dasarnya, semua guru dalam setiap agama yang ada di dunia ini menginginkan seluruh sisyanya hidup dalam kedamaian. Jika semua guru di setiap agama memiliki tujuan demikian, maka semua guru dalam agama yang berbeda-beda memiliki tujuan yang sama. Setidaknya, alasan inilah yang dapat dijadikan landasan setiap umat beragama untuk menghormati keberadaan guru dalam agama lain. Demikian pula patut menjadi perhatian bagi sisya-sisya Hindu. Di dalam pandangan pendidikan Hindu, Sisya-sisya Hindu tidak dibenarkan untuk tidak menghormati keberadaan guru lain selain guru-guru yang sering mengajarnya. 

Sabtu, 05 Desember 2015

Merajut Nusvantara

“MERAJUT NUSVANTARA”


Dahulu kala…. sebelum agama-agama datang ke Nusvantara, tetua kita sudah beradab... sudah bermoral... Nusvantara adem-adem saja.... air sungainya mengalir dengan tenang, ikan-ikan berenang dengan damai… gunung-gunung menjulang tinggi yang dihiasi rumput hijau, bunga-bunganya indah berwarna-warni…. burung-burung menari dengan girang… kidung-kidung suci dengan lantunan khas Nusvantara bergema dimana-mana... khas Java... Bali.. Sunda.. Bugis... Toraja.. Kaili... dan ratusan suku lainnya...tidak ada penjahat yang namanya mendunia, tidak ada Rahvana, tidak ada Duryudana, tidak ada Sakuni, tidak ada Yehudas, tidak ada Dewadatta, tidak ada kaum Jahillia... Itulah sebabnya Hyang Esa tidak mengirim secara khusus nama Avatara, Nabi, Maharsi, Lama, Penyair yang namanya besar seperti di negeri asal agama-agama yang masuk ke Nusvantara....

Sungguh tidak cerdas, jika agama-agama yang datang dari berbagai negeri itu membuat kita porak-poranda di dalam persaudaraan... sungguh miris, jika agama-agama yang datang dari berbagai negeri itu menjadikan kita memperkosa budaya luhur yang telah diwariskan tetua kita... leluhur kita... Kebanggaan Nusvantara dimata dunia adalah kebudayaan itu... agama yang ada di Nusvantara sekarang ada juga di seluruh dunia, tetapi kebudayaan khas Nusvantara tampil beda dari seluruh negara di dunia. Perhatikanlah negara-negara maju di belahan dunia ini... semua menghargai kebudayaannya.... bahkan ada negara yang miskin kebudayaan, sampai-sampai ingin ikut memiliki kebudayaan negara lain dengan cara yang tidak sopan...

kebudayaan yang kaya menjadikan Nusvantara menjadi UNIK dan MENARIK... TAMPIL BEDA... hal inilah sejatinya SPIRIT KEBANGSAAN KITA... CIRI KEBANGSAAN KITA... Seharusnya, saat ini kita tetap pada spirit dan ciri itu... walaupun agama yang datang ke-Nusvantara beragam dari berbagai belahan di dunia; datang dari negeri Bharata... dari Negeri Padang Pasir... negeri Sakura... Negeri Tirai Bambu... Negeri Gunug Bersalju… dan negeri-negeri lainnya... kebudayaan Nusvantara yang dianugerahkan oleh Hyang Esa melalui para Tetua jangan dilupakan!!!!!