Rabu, 03 Juni 2015

Pura Majapahit Jembrana

Sejarah Pura Majapahit

 I Putu Heri Dianandika


Keberadaan Pura Majapahit di Desa Pakraman Baluk Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana tidak dapat dipisahkan kaitannya dengan tiga buah kerajaan, yaitu masing–masing kerajaan Mengwi, kerajaan Jembrana dan kerajaan Blambangan atau Malar-Kabat di Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Karena berdasarkan hasil Wawancara dengan informan Suarem (Wawancara 04 Februari 2011) memberikan keterangan bahwa diperkirakan dalam tahun 1764 Masehi, yang menjadi penguasa di kerajaan Mengwi ialah I Gusti Agung Made Kemasan dari Sibang. Gusti Agung Made Kemasan menggantikan raja sebelumnnya yang telah wafat, yaitu Cokorda Munggu/Cokorda Nyoman Alang Kajeng/ raja Mengwi ke III, yang pada saat itu belum bisa menobatkan putra mahkotanya sebagai raja karena masih cukup kecil maka diangkatlah I Gusti Agung Made Kemasan.
______________________________________________________________
Catatan:
Kerajaan Jembrana dan Blambangan pada mulanya sempat menjadi bagian dari kekuasaan kerajaan Buleleng yakni Ki Barak Panji Sakti. Seperti yang di jelaskan oleh I Wayan Simpen Bongaya dalam bukunya “Ki Barak Panji Sakti” , yakni sekitar tahun 1691 M, berangkatlah angkatan perang Ki Gusti Ngurah Panji Sakti untuk menyerang Blambangan… yang akhirnya dimenangkan oleh Ki Barak Panji Sakti… setelah itu Ki Gusti Ngurah Panji Sakti diiringi oleh Teruna Goak- dan segenap laskar rakyat pulang ke Bali. Di dalam perjalanan pulang itu panji sakti menyerang Jembrana yang akhirnya dapat ditaklukkannya Jembrana….

Selanjutnya  dijelaskan bahwa sebelum Cokorda I Nyoman Alang Kajeng wafat, beliau meninggalkan dua orang putra yaitu yang sulung bernama I Gusti Mbahiun yang bergelar Cokorda Mbahiun dan putra bungsunya bernama I Gusti Agung Made Munggu. Pada nantinya Cokorda Mbahiun inilah yang akan memegang kekuasaan di kerajaan Mengwi.

Terkait dengan peristiwa ini dalam lontar Babad Mengwi pada lembar /60b/-/61a/ dijelaskan sebagai berikut.

/60b/ …Caitanan ta muwah Gusti Agung Noman Alang Kajeng ri wus lama angemban kaprabonirang kaka, ndah ta ri mangke ri pandewatanira Batara Ring Kaleran, sira ta gumanti ratu, makapanglingganikang rat, sapunpunaning kawiapura, wus puput biniseka, sinalinan jujuluk inaranan Cokorda Munggu, enak denira angraksa rat, yan pirang warsa lawasire umadeg ratu, mangke wus wreda sira, prapta pwa nalikanira mur pwa sira ring Puri Munggu, apan sira karya angalihi pura, wus puput binasmi sapratekaning ratu tekaning panileman, saha pitrayadna winangunaken ring taman Ahiun, laju sira inaranan dening loka, Batara Andewata ring sor ing Balimbing. /61a/ Tucapa ta mangke Ida I Gusti Mbahiun, jiesta putranira Batara sor ing Balimbing, sira ta gumantining ratu, jumeneng ring kawia raja, abiseka Cokorda Mbahiun, abasa kakasan papakering. Kunang arinira, abiseka I Gusti Made Munggu, darmotama  pradneng aji, wruh angalap asihing, wagat hana ta hasa sawahan, kaya teher apuri ring Munggu….(Babad Mengwi lembar /60b/-/61a/).

Terjemahannya:
/60b/Kembali diceritakan beliau I Nyoman Alang Kajeng yang telah lama duduk sebagai raja menggantikan kedudukan kakaknya, setelah wafatnya beliau yang bergelar “Batara Ring Kaleran”  beliau kemudian menggantikan kedudukannya sebagai raja, merupakan pengayom rakyat, dan telah bergelar dan kemudian berganti nama, kini bernama Cokorda Munggu. Beliau benar–benar bijaksana mengemban negara. Entah beberapa lamanya beliau duduk sebagai raja, kini beliau telah berusia lanjut, maka tiba waktunya beliau wafat di Puri Munggu, karena beliau telah berpindah kedudukan. Setelah mayat beliau selesai dibakar lalu di upacarakan sesui dengan pelaksanaan upacara bagi seorang raja, lengkap dengan upacara Pitra Yadnya, yang kemudian dibuatkan stana di Taman Ahiun. Oleh masyarakat luas beliu itu diberikan gelar “Batara Ndewata Ring Sor Ring Balingbing”. /61a/ Kini disebutkan I Gusti Agung Mbahiun putra dari “Batara Ring Sor Ring Balingbing” beliau itu yang menggantikan duduk sebagai raja di Mengwi bergelar Cokorda Mbahiun. Adik beliau bergelar I Gusti Agung Made Munggu, berbudi luhur dan menguasai ajaran sastra, pandai menarik perhatian para rakyat, ahli di dalam pertanian dan segala bentuk pekerjaan lainnya. Beliau itu juga berkedudukan di Munggu…. (Tim Penyusun, 2007:62-63).

Demikian pula keadaannya di Jembrana pada saat itu diperintah oleh seorang raja yang bernama Anak Agung Ngurah Jembrana. Dalam menjalankan tugas kerajaan dibantu oleh dua orang putranya yaitu: Anak Agung Gede Agung dan Anak Agung Made Ngurah. Sebagai Purohita (penasehat kerajaan) adalah paman dari ibundanya yang bernama Gusti Kaler dari Tukmung/Klungkung keturunan Anglurah Kaler Pacikan. Hubungan raja Mengwi dengan raja Jembrana adalah termasuk hubungan vertikal keluarga/kekerabatan yang sangat dekat, karena raja Jembrana I, yaitu Anak Agung Ngurah Jembrana adalah putra dari raja Mengwi yang ke III, yaitu I Gusti Nyoman Alang Kajeng yang diperkirakan menjabat sekitar tahun 1757 M. Sejarah ini didukung pula dalam lontar Babad Mengwi sebagai berikut.

/59b/…tan kawarneng dine latri, wetu pwa rare laki yowana pwa sira tan kahaning agring, tan warnanen manke wus apangwangun tang rare, laju Ki Gusti Takmung, asung wruh ring I . /60a/ Gusti Agung Noman Alang Kajeng, yan wus apawangun, yusaning anakira lingira: I Gusti Agung Noman Alang Kajeng, lahia gawanan marangke, ta upacen ginawa pwa tang rare, mara ing Mangwi laju kinem angatera maraheng Jembrana, prasida macekin ring kana, sinung panegran Gusti Ngurah Jembrana muwah hana pwa prenah pamanira, apatra Gusti Kaler, kinen anembrama mareng Jembrana….(lontar Babad Mengwi /59b/-60a/).

Terjemahannya:
/59b/…Beberapa lama kemudian Gusti Luh Takmung melahirkan anak laki–laki yang elok rupawan, kelahiran Gusti Luh Takmung itu telah di upacarakan disampaikan kepada I. /60a/ Gusti Agung Nyoman Alang Kajeng, yang lalu memerintahkan: “bawalah kemari putraku itu”. Kemudian anak itu dibawa ke Mengwi langsung diperintahkan dibawa ke Jembrana yang dikemudian nanti selaku penguasa di Jembrana dengan gelar Gusti Agung Ngurah Jembrana. Ada pula yang selaku paman beliau bernama Gusti Kaler yang selaku pengemban di Jembrana…. (Tim Penyusun, 2007:62-63).

Menurut Korn (dalam Nordholt 2009: 85) pada abad ke delapan belas, Jembrana adalah wilayah yang belum digarap, namun kerajaan Mengwi memiliki tujuan strategis dalam usahanya untuk dapat menapakkan kaki disana (dalam rangka kontak dengan kerajaan Blambangan) sehingga diangkatlah seorang anak astra untuk menjalankan roda pemerintahan atas nama dinasti Mengwi. Anak astra adalah seorang anak yang dianggap tidak sah melalui perkawinan dari seorang bangsawan yang lahir dari perempuan (Gusti Luh Takmung) jaba (yang juga adalah Selir), tapi diakui oleh ayahnya.
_____________________________________________
Catatan:
…beberapa waktu kemudian hubungan kedua kerajaan tersebut (Buleleng dan Mengwi yang sempat berseteru akibat bentrok Ki Gusti Ngurah Panji Gede, putra dari Ki Barak Panji Sakti dengan Raja Mengwi) terjalin membaik, hingga akhirnya  Raja Mengwi  mengawini putri Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, saudara perempuan Ki Gusti Panji Gede yang bernama Ki Gusti Ayu Panji. Sebagai hadiah kepada sang putri tersebut, maka ayahnya memberikan Blambangan dan Jembrana. Sejak saat itu Blambangan dan Jembrana di bawah perintah Raja Mengwi. Atas kebijaksanaan Raja Mengwi  kira-kira tahun 1750 M diangkat seorang putra yang ibunya dari Takmung untuk menjadi Raja di Jembrana. Dan di Blambangan di angkat putra Raja Blambangan (Ki Dewa Mas Sedah dan Ki Dewa Mas Pahit) bergelar Pangeran Mangku Ningrat dan adik tirinya Ki Dewa Mas Wilis. Pemerintahan lalu di bawah penguasaan Raja Mengwi. Suatu ketika pada waktu tertentu  Raja Mengwi datang berkunjung ke Blambangan, sejak saat itu Raja Mengwi bergelar “Ida Cokorda Sakti Blambangan”.

Misi yang diemban anak muda ini adalah untuk mencaplok Puri Jembrana. Ia di utus sebagai pewaris Puri Jembrana dan mengambil kekuasaan atas keluarga bangsawan setempat dengan menyingkirkannya perlahan–lahan. Tentu ini bukan berarti bahwa anak astra Puri Jembrana tersebut adalah anggota keluarga kerajaan secara penuh. Kedudukannya tidak sama dengan dinasti kerajaan Mengwi, tetapi berada beberapa lapis lebih rendah. Kedudukannya yang lebih rendah tercermin dari gelarnya, Gusti Ngurah, yang sama dengan gelar para bangsawan di wilayah Mengwi, yang bukan anggota keluarga kerajaan (Nordholt, 2009: 85).

Pada suatu ketika, dengan tidak terduga suatu peristiwa malapetaka menimpa Anak Agung Ngurah Jembrana, yaitu putranya yang sulung Anak Agung Gede Agung meninggal dunia karena sakit dan wafatnya di taman kerajaan. Anak Agung Gede Agung meninggalkan seorang putra yang belum dewasa yaitu bernama Anak Agung Gede Jembrana. Sepeninggalnya Anak Agung Gede Agung maka yang bertanggung jawab membantu raja Jembrana (ayahandanya) dipegang sepenuhnya oleh putra raja yang kedua yaitu Anak Agung Made Ngurah adik dari Anak Agung Gede Agung.

Sedangkan hubungan Mengwi dengan kerajaan Blambangan (Malar-Kabat) adalah suatu hubungan kekuasaan, karena Blambangan pada saat itu adalah merupakan daerah taklukan dari kerajaan Mengwi. Peristiwa ini terjadi pada perkiraan tahun 1739 M. Selanjutnya untuk mengawasi gerak gerik raja Blambangan yang telah menjadi taklukan dari raja Mengwi, maka raja Mengwi Cokorda Alangkajeng menempatkan seorang patih yang dipilihnya dari kalangan bangsawan, bernama I Gusti Made Ngurah dari Kaba–kaba, dan ditempatkan di Lugondo (Rogojampi). Di Lugondo I Gusti Made Ngurah bergelar Temenggung Ronggo Setoto. Gelar itu disandangnya karena diperkirakan pada saat itu di Blambangan  keadaan sosial keagamaan telah bercampur antara agama Hindu dan agama Islam.

Kerajaan Blambangan atau sering pula disebut kerajaan Macan Putih diperintah oleh seorang raja bernama Pangeran Mas Sepuh/Pangeran Pati III/Pangeran Mangku Ningrat/Danu Ningrat/Mas Noyang dan bergelar pangeran Macan Putih karena didasari atas pusat daerah kekuasaannya berada di daerah Macan Putih (sekarang Rogojampi). Dalam masa sebagai bagian taklukan dari kekuasaan kerajaan Mengwi, Mangku Ningrat didampingi oleh seorang Purohita (penasehat kerajaan) bernama Pangeran Wong Agung Wilis yang masih merupakan adik tiri dari raja Mangku Ningrat.  Patih beliau bernama Suta Jiwa/Suta Wijaya (merupakan putra dari Mangku Ningrat), dan Patih Suta Negara. Hal ini tersurat pula dalam Babad Wilis pupuh i.9-i.17 sebagai berikut.

Pangeran Pati/Mangku Ningrat/Macan Putih yang masih menganut agama Budha sudah lama memerintah di Blambangan (manik lingga/permata istana). Kedua Patihnya Mas Suta Jiwa/Suta Wijaya dan Mas Suta Negara tidak punya Wibawa, yang mendapat tempat di hati rakyat dan pasukan, di hati sang raja pula, ialah Wong Agung Wilis adik sang raja. Fitnah yang menjelekkan nama Wong Wilis merajalela di keraton dan sumbernya yang terpenting ialah Tepasana (mertua Suta Jiwa/Suta Wijaya), (Winarsih, 1980:4).

Selanjutnya dalam Babad Wilis juga dijelaskan, pada mulanya hubungan ketiga kerajaan ini cukuplah baik, walaupun raja Macan Putih merasa tidak senang akan takluknya kerajaan Blambangan di bawah kerajaan Mengwi. Ketidaksenagannya itu diakibatkan hasutan dari patihnya Suta Jiwa (putra Mangku Ningrat) dan Tepasana (mertua Suta Jiwa). Hal ini tertuang dalam Babad Wilis pupuh ii.29–ii.36. Adapun kutipanya sebagai berikut.

Wong Agung Wilis tidak perduli dengan kemenangan orang Bali, hatinya lebih senang seandainya matilah Tepasana dan Suta Jiwa yang dituduhnya menjadi sebab sang raja bersikap berontak kepada Gusti Agung Mengwi, menjadi sebab pula dari segala kesengsaraan yang merundung negerinya (Winarsih, 1980:4). 

Berkaitan dengan hubungan kekuasaan kerajaan Mengwi dengan kerajaan Blambangan, maka dimasa itu raja Jembrana sering pula diberi tugas oleh raja Mengwi untuk mengawasi keberadaan dan perkembangan kerajaan Blambangan, mengingat jarak Jembrana dengan Blambangan tidak begitu jauh, hanya terpisah oleh selat Bali saja dan mengingat juga hubungan kekeluargaan antara kerajaan Mengwi dan kerajaan Jembrana, sehingga kepercayaan itu diberikan kepada raja Jembrana, sehingga bisa dikatakan bahwa Jembrana digunakan sebagai salah satu sub satelit kerajaan Mengwi untuk kerajaan Blambangan. Oleh karena tugas dan kepercayaan itu pula menjadikan raja Jembrana dan raja Blambangan semakin hari semakin erat tali persahabatannya yang dilatar belakangi seringnya pertemuan–pertemuan yang dilakukan hingga berganti–ganti saling kunjung–mengunjungi.

Masih pada masa–masa sebagai taklukan Mengwi,  sampailah dalam suatu musim kemarau panjang di kerajaan Blambangan (Malar-Kabat), dan dimasa kemarau panjang itu merebaklah permainan rakyat, yaitu berupa adu jangkrik yang sangat digemari oleh kalangan masyarakat dari lapisan bawah sampai lapisan tingkat atas. Permainan ini semarak berkembang karena dalam praktiknya bersifat perjudian. Di dalam suatu pertandingan jangkrik tingkat ningrat (bangsawan pembesar kerajaan) beradulah jangkrik raja Macan Putih  (Mangku Ningrat)  melawan jangkrik milik raden Tumenggung Ronggo Setoto. Dalam pertarungan Jangkrik kedua petinggi kerajaan ini berakhir dengan terkalahkannya jangkrik milik raja Macan Putih.

Kalahnya jangkrik dari raja Macan Putih ternyata tidak mengakhiri permainan adu jangrik tersebut, bahkan sebaliknya menjadi awal dari gelapnya masa–masa yang akan dijalani dan dihadapi oleh raja Macan Putih. Raja Macan Putih merasa tidak terima dan tidak puas akan kekalahannya. Seketika itu raja Macan Putih memerintahkan salah satu patihnya yaitu Suta Jiwa/Suta Wijaya (putra dari Mangku Ningrat) untuk membunuh Raden Ronggo Setoto (Utomo, tt:7). Sehingga terjadilah perkelahian antara Raden Ronggo Setoto dengan patih Suta Jiwa. Melihat perkelahian Raden Tumenggung Ronggo Setoto dengan Suta Jiwa, membuat raja Macan Putih semakin marah karena Ronggo Setoto sangat kebal akan senjata apapun. Akibat kebalnya Raden Ronggo Setoto maka ia di tangkap dan disiksa hingga ia tewas dan dimakamkan di Luganta (Rogojampi). Peristiwa mengerikan ini tersurat pula dalam Babad Tawang Alun pupuh vii.14-21 sebagai berikut.

Ronggo Setoto yang bertengkar dengan Suta Jiwa/Suta Wijaya (putra dari raja Mangku Ningrat) gara–gara adu jangkrik. Mangkuningrat marah dan menyuruh membunuh Ronggo Stoto, ternyata Ronggo Setoto sangat kebal terhadap senjata maupun batu. Ranggo Setoto terus disiksa, akhirnya menunjukkan rahasianya yaitu dengan mengalungkan benang tenun (lawe) sehingga tewas dimakamkan di Luganta (Rogojampi). Ketika tewas terdengar suara bahwa kelak akan membalas kekalahannya (Winarsih, 1980).

Diperkirakan peristiwa mengerikan ini terjadi pada perkiraan tahun 1739 M. Terbunuhnya Patih Ronggo Setoto inilah menjadikan awal bencana yang akan menimpa kerajaan Blambangan dan juga keluarga kerajaan Jembrana khususnya keluarga raja Mangku Ningrat serta keluarga Puri Agung Jembrana. Begitu juga melalui bencana ini pula yang akan memulai sejarah berdirinya Pura Majapahit di Desa Pakraman Baluk.

Perlakuan yang sewenang–wenang sehingga terbunuhnya Temenggung Ronggo Setoto ini diketahui oleh Pangeran Wong Agung Wilis. Selaku penasehat raja, maka Pangeran Wong Agung Wilis memberikan saran kehadapan raja Mangku Ningrat, demi keselamatan daerah kerajaan Macan Putih maka diusulkan dan dinasehatilah Mangku Ningrat agar menghadap kepada raja Mengwi untuk meminta pengampunan atas perbuatan yang telah dilakukan oleh Mangku Ningrat kepada Ronggo Setoto. Karena jika saran ini tidak segera dilaksanakan maka Pangeran Wong Agung Wilis sangat yakin peristiwa ini akan berdampak buruk bagi kelangsungan hubungan kedua kerajaan, yaitu kerajaan Mengwi dan kerajaan Blambangan. 

Hasil Wawancara dengan informan Wenen (Wawancara 04 Februari 2011) memberikan keterangan bahwa pangeran Wong Agung Wilis dalam keberadaannya sebagai Purohita (penasehat kerajaan) di kerajaan Blambangan pada dasarnya segala pendapat dan usul yang selama ini telah ia berikan kepada raja Mangku Ningrat sering tidak dapat diterima oleh Mangku Ningrat, walaupun pada dasarnya mereka terikat tali persaudaraan, dengan kata lain antara pemikiran Wong Agung Wilis dan Mangku Ningrat sering bersebrangan, kenyataan itu didasari oleh bentuk kepribadian yang selalu berbeda.

Kenyataan–kenyataan itu ternyata terjadi pula pada saran yang diberikan oleh Wong Agung Wilis kali ini. Raja Mangku Ningrat menanggapi usul Wong Agung Wilis dengan kemarahan dan murka sehingga berlanjut kepada tindakan pengusiran Wong Agung Wilis selaku Purohita dari kerajaan Blambangan. Kecewa maksud baiknya Wong Agung Wilis ditolak bahkan ia diusir dari kerajaan Blambangan, maka berangkatlah Wong Agung Wilis sendiri ke Mengwi untuk melapor perihal kematian Raden Ronggo Setoto. Namun kali ini Wong Agung Wilis tidak menyempatkan diri untuk singgah di Puri Gede Jembrana, kepada Anak Agung Ngurah Jembrana  atau wakilnya Anak Agung Made Ngurah sebagai petugas pengawas keamanan di daerah Malar–Blambangan untuk menyampaikan berita duka terbunuhnya Ronggo Setoto.

Kepergian Wong Agung Wilis ke Mengwi (Bali), maka raja Mangku Ningrat selalu gelisah, khawatir, ketakutan dan ia berusaha meminta pertolongan kepada kompeni Belanda atau VOC, tetapi mereka tidak berkenan untuk menolong. Menurut Winarsih (dalam Utomo, tt:4) Mangku Ningrat tidak hanya meminta pertolongan kepada kompeni Belanda dan VOC, tetapi ia juga meminta bantuan kepada Gubernur Semarang dan Bupati Lumajang, hal ini tersurat dalam Babad Wilis pupuh ii.36-iii28 dan vi.29-vii.4 sebagai berikut.
ii.36-iii.28/ Pangeran Pati (Mangku Ningrat/Danuningrat) hendak berlindung kepada kompeni diantar oleh Bupati Prabalingga yaitu Jayalalana ke Komendan Kompeni di Pasuruan. vi.29-vii.4/ Gubernur semarang menolak permintaan bantuan yang diharapkan oleh Pangeran Pati  dan dilarang menginjakkan kaki di wilayah Kompeni, selanjutnya di terima oleh Bupati Lumajang yaitu Kertanegara (Utomo, tt:4).

Berdasarkan Wawancara dengan informan Sutarma (Wawancara 28 Februari 2011) Sesampainya Wong Agung Wilis di kerajaan Mengwi, maka dilaporkanlah perihal berita duka yang menimpa Patih kepercayaannya Ronggo Setoto. Atas berita duka itu raja Mengwi terkejut dan tidak mampu mengontrol diri akibat murkanya. Berdasarkan laporan Wong Agung Wilis, maka raja Mengwi Memanggil raja Mangku Ningrat agar segera menghadap ke Mengwi dengan disertai ancaman apabila tidak memenuhi panggilan ini maka akan di ambil tindakan kekerasan. Sejalan dengan pendapat Sutarma, Winarsih (dalam Utomo, tt:4) yang berdasarkan buku Babad Wilis viii.57-viii.63 dinyatakan pula bahwa Wong Agung Wilis sempat diberikan kesempatan untuk menggantikan Mangku Ningrat sebagai raja di Blambangan, adapun kutipannya sebagai berikut.
...Wong Agung Wilis menolak tawaran Cokorda agung Mengwi untuk menjadi raja Blambangan selama kakaknya masih hidup... untuk sementara Wong Agung Wilis disuruh berkumpul dengan pamannya Bupati Kaba-Kaba... (Winarsih dalam Utomo, tt:4).

Sejak raja Mangku Ningrat mengetahui bahwa Wong Agung Wilis telah melapor ke Mengwi, ia telah dihinggapi perasaan takut akan akibat perbuatannya. Menurut keterangan informan Sutarma (Wawancara 04 Februari 2011) menyatakan bahwa sebelumnya raja Macan Putih sempat menolak ultimatum raja Mengwi untuk menyerahkan diri ke Mengwi. Karena penolakan raja Macan Putih tersebut, sehingga membuat raja Mengwi semakin murka dan berlanjut mengutus Wong Agung Wilis kembali ke Blambangan untuk menyerang kerajaan Macan Putih. Hal ini diperkuat pula dalam Babad Wilis pupuh i;49 - ii;20 sebagai berikut.

Gusti Agung Cokorda Mengwi (Bali) yang dipertuan oleh Blambangan (baca: Raden Wilis) mengirim pasukannya untuk menangkap Tepasana (mertua Suta Wijaya) dan Suta Wijaya (putra Mangku Ningrat) dengan peringatan bahwa pangeran Pati (Mangku Ningrat) tidak boleh di sakiti. Di iringi oleh kepala pasukan Wilis dan diikuti oleh separuh rakyat Blambangan, menyerbu secara mendadak. Suta Wijaya dan Tepasana (patih Raja Mangkuningrat) melarikan diri. Pertempuran terjadi, pangeran Pati meninggalkan ibu kota dan memerintahkan pasukan–pasukannya untuk mundur dari medan perang. Tepasana yang membubarkan pasukannya dan membawa lari senjata dan tombak–tombaknya  (Winarsih, 1980:4).

Melihat kemurkaan raja Mengwi dan semakin menyadari akan kesalahannya, maka raja Mangku Ningrat mempersiapkan diri untuk segera menghadap ke Mengwi. Menurut Utomo (tt:7) berdasarkan Babad Tawang Alun dalam rangka keberangkatan Mangku Ningrat ke Mengwi sebelumnya beliau sempat mendatangi adiknya Wong Agung Wilis yang telah berada di Blambangan pasca penyerangan kerajaan Macan Putih atas perintah raja Mengwi. Didatanginya Wong Agung Wilis oleh Mangku Ningrat adalah dengan tujuan agar Wong Agung Wilis bersedia mengantarkan ke Puri Mengwi, namun diperkirakan Wong Agung Wilis tidak berkenan untuk menghantarkannya. Adapun kutipan Babad Tawang Alun vii:27-35 tersebut adalah sebagai berikut.

Raja Klungkung dan raja Mengwi mendengar berita kematian Ronggo Setoto dan segera memanggil Danu Ningrat/Mangku Ningrat ke Bali, Danu Ningrat takut dan minta didampingi oleh adiknya Wong Agung Wilis yang akhirnya beliau di bunuh di Seseh  (Utomo, tt:7).

 Selanjutnya Utomo (tt:5) menyatakan dalam rangka persiapan keberangkatan raja Macan Putih ke Mengwi maka datanglah Gusti Ngurah Kaba–kaba bersama Si Kutha Bathah yang merupakan utusan raja Mengwi guna memperingatkan kembali raja Mangku Ningrat untuk segera ke Puri Mengwi (mengenai Si Kutha Bhatah dan Gusti Ngurah Kaba–Kaba tidak ada keterangan lebih lanjut). Pada bagian yang sama Tim Penulis (1998:4) juga menyatakan bahwa dalam rangka keberangkatan Baginda Mangku Ningrat ke Mengwi, beliau mengajak pula keluarga (anak dan istri). Istrinya bernama Nawang Sasi, dengan maksud dan harapan mudah–mudahan mendapat simpati dan pengampunan dari raja Mengwi.

Mencermati pernyataan Tim Penulis, namun memilki sedikit perbedaan dengan pendapat Utomo (tt:4) bahwa dalam Babad Wilis pupuh ii,2-ii,36 dinyatakan istri, anak–anaknya bersama para sentana raja Mangku Ningrat tidak bersamaan berangkat ke Mengwi, akan tetapi menyusul kemudian, setelah kerajaan Blambangan sempat dirusak kembali oleh pasukan Bali. Namun untuk diketahui dan sebagai penegasan bahwa sesampainya di Puri Jembrana, raja Mangku Ningrat telah bergabung bersama dengan istri dan anak–anaknya (Subandi, 1984:7).

 Berkaitan dengan pernyataan tersebut, lebih lanjut menurut penuturan informan Wenen (Wawancara 28 Januari 2011) dalam keberangkatan raja Mangku Ningrat ke Mengwi, beliau juga mengajak sejumlah pengiring yang agamanya sudah bercampur antara Hindu dan Islam (suku/etnis Using Banyuwangi). Hal ini didukung pula atas penuturan informan Sutarma (Wawancara 16 Februari 2011) bahwa pengiring raja Mangku Ningrat dalam perjalanannya ke Mengwi tergabung antara umat Islam dan Hindu, yang diperkirakan berjumlah ± 40-60 orang.

Selanjutnya, dalam perjalanan menuju Mengwi rombongan berlabuh di pantai Purancak (Desa Purancak sekarang) karena bertujuan akan singgah dulu di Puri Gede Jembrana. Dalam pertemuan dengan raja Jembrana yang pada saat itu dijabat/diwakili oleh Anak Agung Made Ngurah. Kedatangan Mangku Ningrat raja Macan Putih bersama keluarga dan pengiringnya disambut dan diterima dengan sebaik-baiknya, dan Anak Agung Made Ngurah menanyakan tentang perihal serta keperluan raja Macan Putih datang ke Bali, sehingga raja Mangku Ningrat menjelaskan bahwa dirinya mendapat panggilan dari Cokorda raja Mengwi untuk menghadap. Mangku Ningrat mengungkapkan rasa takut untuk menghadap ke Mengwi karena merasa ada firasat akan mendapat malapetaka dan berharap dengan hormat agar Anak Agung Made Ngurah berkenan mengantarkannya, namun Mangku Ningrat tidak menjelaskan peristiwa kematian Patih Ronggo Setoto yang merupakan latar belakang pemanggilannya.

Walaupun Mangku Ningrat terus membujuk Anak Agung Made Ngurah untuk bersedia mengantarkannya untuk menghadap Cokorda raja Mengwi namun anehnya Anak Agung Made Ngurah tidak memenuhi permintaan raja Macan Putih, akan tetapi beliau memberikan sejumlah pengiring dibawah pimpinan Pan Tabah (Parekan/parjurit andalan Puri Gede Jembrana). Berhubung Anak Agung Made Ngurah benar–benar tidak mengetahui tentang peristiwa terbunuhnya Tumenggung Ronggo Setoto walaupun sebagai petugas keamanan daerah Malar-Kabat dan berhubung pula Pangeran Wong Agung Wilis langsung melaporkan peristiwa terbunuhnya Ronggo Setoto ke Mengwi dan tidak singgah di Jembrana maka dianggap jujur keterangan raja Mangku Ningrat, dan yang lebih tidak membuat kecurigaan apapun dari Anak Agung Made Ngurah, yaitu dengan bersama-sama keluarga.

Berdasarkan Wawancara dengan informan Suarem (Wawancara 28 Januari 2011) Anak Agung Made Ngurah menyarankan kepada Mangku Ningrat agar segera berangkat dengan sebelumnya disertai sumpah/perjanjian di dalam Pemerajan antara Anak Agung Made Ngurah dengan Mangku Ningrat. Adapun isi dari sumpah itu “apabila raja Macan Putih beserta keluarga mendapat malapetaka korban jiwa di Mengwi, maka Anak Agung Made Ngurah dengan lascarya (iklas) akan ikut mati sebagai rasa kesetiaan terhadap persahabatannya”. Begitulah akrabnya persahabatan antara Anak Agung Made Ngurah dengan raja Mangku Ningrat. Atas perjanjian ini puaslah raja Macan Putih dan merasa dirinya telah didukung secara moril oleh Anak Agung Made Ngurah, lalu bersama keluarga serta diiringi oleh pasukan dari Puri Jembrana yang dipimpin oleh Pan Tabah berangkatlah Mangku Ningrat ke Mengwi.

Sesampainya raja Mangku Ningrat/Macan Putih sekeluarga dan rombongan di kerajaan Mengwi, maka diterima sebagaimana mestinya di Puri Agung. Penguasa kerajaan Mengwi pada saat itu dijabat oleh I Gusti Agung Made Kemasan dari Sibang, berhubung raja Mengwi Cokorda Made Munggu pada saat itu telah wafat dan putra mahkota beliau masih kecil (Cokorda Mbahiun). Oleh sebab itu permasalahan Mangku Ningrat sepenuhnya diadili oleh I Gusti Made Kemasan.

Pada akhirnya dalam proses persidangan perkara Mangku Ningrat, segala kesalahan dalam pembunuhan Tumenggung Ronggo Setoto di Blambangan telah diakui oleh Mangku Ningrat dan disertai dengan mohon pengampunan, namun keputusan hukuman mati dijatuhkan kepadanya, karena hutang jiwa harus dibayar dengan jiwa pula. Akhirnya hukuman mati diterima oleh Mangku Ningrat, dengan disertai permohonan agar keluarganya tetap hidup. Namun tragisnya, permohonan tersebut tidak dapat dipenuhi oleh I Gusti Made Kemasan, artinya permohonan raja Macan Putih ditolak dan hukuman mati bagi seluruh keluarga Mangku Ningrat tetap dilaksanakan. Adapun tempat pelaksanaan hukuman, yaitu bertempat di Seseh (daerah Kuta sekarang). Sebelum Mangku Ningrat meninggal beliau sempat mengucapkan kutukan kepada raja Mengwi karena telah menghukum mati anak dan istri yang tidak ikut berdosa.

Peristiwa terbunuhnya raja Mangku Ningrat ini dibenarkan pula oleh Utomo (tt:4-5) yang menyatakan bahwa sebelum beliau dibunuh, beliau sempat diasingkan di Desa Tegal Belungbungan. Raja Mengwi melarang rakyat mengunjungi Desa Belungbungan atau berdagang kesana. Gusti Agung Kemasan Dhimade diketahui oleh raja Mengwi telah secara diam–diam memberi makan kepada Mangku Ningrat sekeluarga dan pengikutnya. Setelah mengetahui hal tersebut raja Mengwi memerintahkan Mangku Ningrat agar dipindahkan ke Munggu.
_______________________________________________________________
Catatan:
Menurut Babad Wilis dari Kraton Mengwi 1250 Caka= 1598 M, yang di kutip oleh Slamet Utomo ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam masa-masa pengasingan Mangku Ningrat di Kaba-Kaba.
Utama Mandala Pura Majapahit
Kabupaten Jembrana
  1. Waktu di Pura Hyang Api Pangeran Mangku Ningrat  sempat membakar jagung dalam sarungnya, dengan itu menunjukkan kesaktiaannya,  maka dengan alasan kesaktian Mangku Ningrat tersebutlah para pengiringnya bersemangat ingin menyerbu Kaba-Kaba namun dilarang oleh Mangku Ningrat dan menenangkan mereka. Untuk memperingati peristiwa tersebut dibangunlah Pura yang bernama Pari Purna di Kaba-Kaba (Pari Purna bermakna kesempurnaan akibat ketenangan dan keheningan).
  2. Sebelum hukuman dijatuhkan, ada tiga pengikut beserta keturunan Mangku Ningrat yang ternyata ditunjuk oleh Mangku Ningrat sendiri untuk menyebar ke Desa lain dalam rangka menyelamatkan diri (tidak dijelaskan siapa orang-orang tersebut dan ke desa mana)-
  3. Waktu di Seseh, Mangku Ningrat diberi makan secara tersembunyi oleh I Karsi. Melalui I Karsi, Pangeran Mangku Ningrat menghadiahi Gusti Agung Dhimade beberapa benda pusaka,  sebilah keris Sri Jati, Keris tersebut bernama I Baru Sangkali, Tombak Si Barong, Cincin Manduka Ijo, tempat Sirih dan rumahnya di tanah ayu.

Dijelaskan pula para pengikut/pengiring raja Mangku Ningrat terkesan ingin menyerang ke Kaba–Kaba dengan alasan tidak terima atas perlakuan raja Mengwi kepada junjungannya, namun Mangku Ningrat melarang karena akan membahayakan serta mencoba menenangkan mereka.

Berkaitan dengan masa–masa terakhir raja Mangku Ningrat di dalam tahanan Mengwi, menurut Babad Mengwi-Lambing:51-2 (dalam Nordholt, 2009:119) menyatakan “saat itu wabah penyakit melanda Mengwi dan bencana tersebut disalahkan pada Mas Sepuh/Mangku Ningrat. Meskipun kelihatannya Mangku Ningrat tidak begitu setia kepada raja, babad itu tidak menekankan kesalahannya. Dinasti Mengwilah, bukannya Mangku Ningrat yang melakukan kesalahan”.

Lebih lanjut, sebelum ke Desa Seseh, pangeran Mas Sepuh/Mangku Ningrat selaku seorang pemimpin masih sempat memberikan nasehat kepada mereka yang akan ditinggalkannya. Adapun nasehatnya yaitu “hendaknya kalian semua (pengiring raja Macan Putih) tetap setia kepada kebangsawanan leluhur, sebab disanalah kebahagiaan itu dan akan bebas dari marabahaya”. Keesokan harinya penduduk Munggu dan Seseh datang untuk membunuh raja Mas Sepuh/Mangku Ningrat beserta keluarga (para pengiringnya tidak ikut serta mendapat hukuman mati) di pantai Seseh.

Pada bagian lain, menurut Nordholt (2009:119) menyatakan sekaligus mempertegas bahwa setelah beberapa waktu berlalu raja Mengwi pura–pura mengijinkan Mangku Ningrat kembali ke Blambangan sebagai orang bebas. Penguasa dari Puri Sibang dan seorang Mekel dari Desa Munggu merupakan pendampingnya. Tetapi sesampainya di pantai Seseh, Mangku Ningrat dibunuh. Sehingga sebelum meninggal, pangeran Mas Sepuh/Mangku Ningrat mencabik–cabik destarnya dan mengutuk kedua Puri, yakni Mengwi dan Sibang serta  berucap  “seperti destar ini akan tercabik–cabik pula oleh musuh hingga keturunannya termasuk raja Mengwi”. Bertalian dengan terbunuhnya raja Macan Putih, ternyata salah satunya berakibat telah melemahnya kekuasaan Mengwi di Blambangan, yaitu sekitar tahun 1771 M pengaruh Mengwi akhirnya terusir atas Blambangan. Karena tidak mampu melawan pasukan VOC yang telah berkuasa dengan senjata meriam–meriamnya.

Setra/kuburan raja Macan Putih beserta anak istri hingga kini sangat dikeramatkan baik oleh masyarakat sekitar maupun masyarakat yang sering datang untuk berziarah disana. Menurut Heyting dan Candrawati (dalam Nurdholt, 2009:120) sesudah kematian Mangku Ningrat, dua tugu peringatan didirikan untuknya di Seseh. Bangunan yang pertama adalah kramat, sebuah kuburan suci (menurut agama Islam) berisikan tubuh Mangku Ningrat. Bangunan yang kedua adalah sebuah Pura, didirikan didekatnya, Pura Mas, atapnya mempunyai Meru yang terdiri dari sebelas atap, sama dengan Meru yang dipersembahkan bagi para Dewa gunung, untuk menghalau kutukan Mangku Ningrat. Diperkirakan tahun 1925 orang Bali yang ditugaskan menjaga kuburan Mangku Ningrat tersebut dilarang memakan daging babi. Tugas pemeliharaan Pura tersebut sampai sekarang menjadi tanggung jawab Puri Sibang.

Terkait terjadinya kutukan raja Macan Putih yang sangat berpengaruh terhadap keberadaan Puri Mengwi dan Puri Sibang, diungkapkan oleh Nurdholt (2009:120-122) bahwa:

Kutukan Mas Sepuh/Mangku Ningrat menggema dalam sejarah Mengwi sampai akhir abad 19 dan menandai berakhirnya suatu masa ekspansi dan awal dari masa kemunduran dan krisis. Karena Mengwi mendapat perlawanan dari bagian timur. Di Karangasem sebuah dinasti kuat sedang tumbuh dan telah berhasil menaklukkan Lombok selama abad ke-18 ini, sebagian besar Buleleng yang menjadi kekuasaan Mengwi telah di ambil alih. Akhirnya dinasti Mengwi tidak dapat lagi mempertahankan satelit daerah di bagian utara; radius jangkauan kerajaan pusat telah menyusut. Pada dekade awal abad-19 dinasti Mengwi mengalami kemunduran–kemunduran: dinasti ini kehilangan kontrol atas pelabuhan–pelabuhan di Jembrana, karena telah dikuasai oleh dinasti tetangga dibagian selatan, yakni Badung pada tahun 1804. Mereka dibantu oleh orang–orang Bugis yang telah memiliki pusat perdagangan di Badung. Pada masa–masa perang, orang–orang bugis inilah dikirim kebarisan depan dari tentara Badung. Dinasti Mengwi terus mengalami kekalahan dan kehilangan bukan hanya dibagian barat dan utara: tidak beberapa lama Mengwi juga mendapat ancaman dari daerah bagian selatan. Anak Ngurah Made Agung baru saja mulai memerintah, ketika ditahun 1809-1810, pasukan Badung menyerbu daerah kekuasaan Puri Sibang. Pada masa pemerintahan Ayu Oka, ketika Padangluah diserbu, pasukan Badung berhasil dihalau, namun sekarang Mengwi tidak mampu membantu negara–negara bagiannya. Puri Sibang dibiarkan begitu saja; dan dimotori oleh prajurit upahan Belanda pasukan Badung menang. Pukulan yang menghantam dinasti Mengwi terjadi melalui berbagai cara. Pertama, sekali lagi Badung menunjukkan bahwa dia tidak menganggap dirinya sebagai bawahan raja Mengwi lagi, sehingga wilayah negara Mengwi menjadi sungguh–sungguh terkikis. Kedua, dengan hilangnya negara–negara bagian yang terpencil berarti dinasti Mengwi tidak lagi menguasai berbagai pelabuhan laut, sehingga Mengwi kehilangan akses langsung terhadap perdagangan antarpulau. Ketiga, serangan Badung terhadap kerajaan Sibang pada tahun 1809-1810 agar menyetujui penggalian sebuah saluran tambahan yang mengalirkan air dari sungai Ayung kedaerah persawahan di Badung. Selanjutnya dinasti Mengwi dihadapkan dengan kehilangan Pura laut di Jimbaran. Pura Ulun Suwi yang penting bagi pertanian terletak di ujung semenanjung Badung dan merupakan ujung selatan dari “poros upacara” negara Mengwi. Dinasti Badung menjadi raja dan penguasa di daerah tersebut dan menolak akses dinasti Mengwi ke Pura Laut tersebut. Ini berarti bahwa daur upacara dari gunung menuju pusat dan laut kemudian kembali lagi terputus.

Terlepas dari kutukan Mangku Ningrat, sehingga atas terjadinya peristiwa terbunuhnya raja Mangku Ningrat tersebut di Seseh, maka Pan Tabah serta rombongan pengiring raja Macan Putih dengan tergesa–gesa setelah mendapat ijin kembali ke Jembrana untuk memberi laporan. Bagi rombongan pengiring raja Blambangan maupun pengiring dari kerajaan Jembrana, tentunya tragedi yang menimpa raja Mangku Ningrat merupakan pukulan bhatin yang amat berat sehingga membuat perasaan sedih yang amat dalam. Begitu pula dengan Pan Tabah selaku pimpinan rombongan merasa memiliki tanggung jawab berat untuk melaporkan berita duka di Mengwi kepada Anak Agung Made Ngurah junjungannya.

Setibanya di Puri Jembrana, Pan Tabah pun segera menghadap junjungannya, yang kebetulan sedang duduk– duduk santai diatas sebuah batu besar di taman kerajaan, batu besar tersebut merupakan tempat beliau duduk sehari–hari. Berpakaian kebesaran raja serta di punggung beliau terselip keris pusaka (Padjenengan) Puri yang bernama Tatasan yang merupakan hadiah raja Mengwi Cokorda Nyoman Alang Kajeng kepada Ida Agung Ngurah Jembrana, raja Jembrana I.

Pan Tabah beserta rombongan dipersilahkan masuk kedalam ruangan Puri serta memanggil Pan Tabah untuk menghadap guna dimintai keterangan tentang raja Macan Putih/Mangku Ningrat. Dengan diawali dengan sembah dan sumpah, Pan Tabah melaporkan tragedi yang menimpa Mangku Ningrat di Mengwi dengan sejujur–jujurnya, bahwa beliau telah wafat beserta keluarganya dan mayatnya ditanam di Desa Seseh. Mendengar berita duka tersebut, tentunya membuat Anak Agung Made Ngurah terkejut dan bersedih. Dalam kesedihan yang begitu dalam, beliau teringat akan sumpahnya bersama Mangku Ningrat di Pemerajan, bahwa beliau akan ikut mati dengan iklas jika terjadi malapetaka terhadap Mangku Ningrat beserta keluarga.

Anehnya sampai saat itu Anak Agung Made Ngurah belum mengetahui dasar kesalahan raja Macan Putih bersama keluarga sehingga mereka dikenakan hukuman mati. Menurut Subandi (1984) setelah menenangkan pikiran, lalu memerintahkan Pan Tabah menghunus keris Tatasan yang diselipkan di pinggangnya agar ditikamkan kepunggung beliau. Pan Tabah sebagai seorang parekan tidak mampu berbicara apa–apa, serta dengan memberanikan diri dan setelah melalukan sembah terakhir, Pan Tabah kemudian mematuhi perintah dan melaksanakannya. Setelah Pan Tabah menikamkan keris Tatasan ke punggung Anak Agung Made Ngurah, darah segarpun bercucuran yang membuat Pan Tabah merasa bersalah dan bersedih, kemudian keris Tatasan diterimakan kembali ke tangan Anak Agung Made Ngurah yang telah menjelang tidak sadarkan diri dan akhirnya wafat seketika dengan perut berlumuran darah dan tangan menggenggam keris terhunus.

Melihat kejadian itu, oleh Parekan–parekan yang menghadap dan tidak mengetahui latar belakang permasalahannya, sehingga Pan Tabah diserang dan dipukuli secara bersama-sama, hingga Pan Tabah pun lari kearah tenggara Puri Jembrana yang dikejar oleh para parekan Puri, hingga sampai disebuah daerah (Tegal Cankring), dan didaerah itulah Pan Tabah dibunuh seperti Celeng (Babi). Berdasarkan Wawancara dengan informan Wenen (Wawancara 04  Februari 2011) dari latar belakang tersebut maka daerah tempat terbunuhnya Pan Tabah hingga sekarang diberi nama Desa Pecelengan. Kekacauan ini akhirnya diketahui oleh raja Anak Agung Ngurah Jembrana dan memerintahkan agar jangan sampai mengorbankan jiwa keluarga Pan Tabah. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1764 M.

Mungkin sudah menjadi phala dari karma serta titah Sang Hyang Widhi Wasa atas malapetaka yang menimpa Anak Agung Made Ngurah dan Pan Tabah, karena berselang tiga harinya kemudian datanglah Raden Wong Agung Wilis/Pangeran Wilis dari Malar/Blambangan untuk menghadap Anak Agung Ngurah Jembrana dalam rangka melaporkan tentang peristiwa adu jangkrik yang berujung terbunuhanya Raden Tumenggung Ronggo Setoto oleh raja Mangku Ningrat, tapi apa daya semua telah kasep (terlambat), karena korban jiwa sudah berjatuhan di Puri Jembrana yaitu Anak Agung Made Ngurah dan parekan Pan Tabah.


Kebenaran yang disampaikan oleh Wong Agung Wilis kepada Anak Agung Ngurah Jembrana membuat beliau dan para parekan Puri Jembrana serta masyarakat mengetahui sebab–sebab terjadinya korban jiwa yang telah berjatuhan, sehingga tidak dapat dipungkiri seisi Puri Jembrana menjadi dihinggapi rasa bersalah, sedih dan penuh rasa penyesalan karena berujung pada pengeroyokan parekan kepercayaan Anak Agung Made Ngurah yaitu Pan Tabah.

Setelah wafatnya raja Macan Putih/Mangku Ningrat di Mengwi (pantai Seseh), Wong Agung Wilis membentuk kerajaan baru yang berkedudukan di Baju/Bayu-Longgan/Rogojampi-Banyuwangi yang disebut kerajaan Kedhawung yang juga masih termasuk daerah Blambangan. Samsubur (2005:66-67) menyatakan bahwa Raden Wong Agung Wilis akhirnya wafat di Bali sebelum tahun 1780 M setelah sempat melakukan pemberontakan terhadap VOC dengan slogan keperkasaannya “Atunggu Zarating Kaki” yang berarti “bahwa Pangeran Wilis akan mempertahankan dan mengawal tanah tumpah darah warisan leluhurnya sampai kapanpun” karena negeri Blambangan adalah negeri haknya bukan VOC. Adapun kutipannya sebagai berikut.

…Setelah sempat menghancurkan benteng VOC dengan komandannya pada saat itu adalah Adrianus Van Rieck pada tanggal 02 Maret 1768, penyerangan oleh Pangeran Wilis yang didukung pula oleh Bupati Blambangan Ki Mas Bagus Anom dan Ki Mas Weka yang sebelumnya sempat menjadi Bupati kepercayaan VOC, penyerangan itu berpusat di kota Lopangpang/Ulupangpang..., Pada tanggal 18 Mei 1768 M VOC menyerbu pertahanan Pangeran Wilis di Kutha Loteng. Pangeran Wilis berhasil menyingkir  ke Dusun Blimbing Sari (terletak antara Banyualit–Kutha-Loteng)…. Kemudian karena dihianati oleh Mas Weka/Uno, Pangeran Wilis berhasil ditangkap oleh serdadu VOC. …Pangeran Wilis akhirnya dikirim kedepot tahanan politik di pulau Edam/Damar di kepulauan Seribu, Teluk Jakarta. Semula Pangeran Wilis direncanakan dikirim ke Kaap de Goed Hoop (Tanjung Harapan Biak) Afrika Selatan. Namun (apa penyebabnya Wong Agung Wilis batal di kirim ke Afrika Selatan) akhirnya beliau dikirim ke pulau Banda/Maluku. Akan tetapi  pada saat di penjara Belgica di Banda kepulauan Seram, Pangeran Wilis dapat melarikan diri. Dari pulau Seram ini beliau dapat mencapai pulau Bali. Di pulau Bali ia meninggal sebelum tahun 1780 M….

Selanjutnya masih pada tahun 1764 M, demikian pula halnya rombongan rakyat pengiring dari Blambangan yang menjadi pengiring almarhum raja Macan Putih tidak dapat dibayangkan betapa beratnya menanggung kepedihan jiwa, karena dihadapan mata mereka raja junjungan beserta keluarga berjatuhan baik yang berdosa maupun yang tidak berdosa. Berdasarkan keterangan informan Murjani (Wawancara 04 Februari 2011) menyatakan, perlu untuk diketahui bahwa:

Rombongan pengiring raja Macan Putih ke Mengwi tersebut adalah pengiring yang sangat disayangi/kesayangan raja, oleh sebab itulah para pengiring raja tersebut memiliki gelar khusus dimata raja, yaitu bergelar “Permas” atau yang berarti “kesayangan raja, anak kesayangan”, yang hingga kini tidak sedikit masih dapat dilihat melalui nama keturunannya pengiring yang berada di Desa Pakraman Baluk yang masih menggunakan nama dengan awalan kata “Mas”.

Hal ini dapat dikaitkan dengan pernyataan Sudjana (2001:36) bahwa “Keturunan dinasti Tawangalun (leluhur raja Mangku Ningrat) memerintah Blambangan sejak sekitar permulaan abad ke-17. Keturunan laki–lakinya menggunakan gelar mas, sedangkan untuk perempuan mas ayu. Ini berlaku untuk keturunan yang lahir dari selir maupun permaisuri. Gelar ini mengidentifikasikan status dan menempatkannya pada puncak susunan masyarakat waktu itu”. Sehingga melalui pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa pemikiran raja Mangku Ningrat kiranya didasari dengan alasan bahwa kesetiaan, pengorbanan atas pengabdian para prajurit pengiring Mangku Ningrat ke Mengwi, maka gelar kebangsawanan para dinasti raja tersebut patut dianugrahkan kepada para pengiringnya.

Terlepas dengan prihal gelar tersebut, karena dilatarbelakangi kesedihan dan tekanan bhatin, rombongan ini telah berketapan hati untuk tidak kembali ke Jawa (Blambangan) dan menetap di Jembrana. Alasan lain menetapnya para pengiring di Jembrana, didukung pula oleh Susanti dan Wati (2008/2009:9) yang menyatakan bahwa: “(1) karena adanya suatu tekanan bhathin setelah mereka menyaksikan sendiri tragedi yang menimpa para pemimpin mereka, sehingga mereka memutuskan untuk menetap di Bali (Jembrana) dan tidak kembali ke daerah asal mereka yaitu kerajaan Blambangan, (2) karena adanya rasa senasib sepenanggungan antara para pengiring, baik yang beragama Hindu maupun yang beragama Islam, maka mereka ingin selalu bersama- sama (3) karena pada saat itu terjadi perang besar-besaran melawan tentara kolonial Belanda di Blambangan.”

 Bersama dengan latar belakang tersebut, maka mereka akhirnya menetap dan menjadi cikal bakal penduduk disuatu daerah yang bernama Banyu Biru (Desa Baluk sekarang). Saiburrahman (tt:2) menjelaskan, setelah diberikannya tempat pemukiman disebelah barat Puri Jembrana, para pengiring menemukan banyak sungai (Kali Akeh) di daerah tersebut. Sehingga disebutlah daerah ini sampai sekarang dengan nama Desa Kaliakah.

Dikarena lokasinya kurang baik untuk dijadikan pemukiman, sehingga untuk mencari lokasi yang lebih strategis, maka perjalananpun dilanjutkan kembali kearah barat Kali Akeh. Di daerah inilah rombongan pengiring dari Blambangan itu menemukan tempat bermukim. Karena kebutuhan manusia yang pertama salah satunya  adalah air, maka di daerah ini, oleh para pengiring raja tersebut tanahpun digali hingga keluar sumber air yang jernih berwarna kebiru–biruan. Dengan peristiwa tersebut, maka daerah munculnya sumber air yang berwarna biru ini dinamakan Banyu Biru atau yang berarti air berwarna biru dan hingga sekarang tempat ini bernama Desa Banyubiru.

Khususnya umat yang beragama Hindu, sebagai wujud Sradha dan Bhaktinya kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, maka didirikanlah sebuah Pura, dan begitu juga dengan umat yang beragama Islam mendirikan Mushola (Masjid Nurul Amin sekarang). Sehubungan dengan pembagian dan pemekaran wilayah di Kecamatan Negara, maka Pura dan Masjid tersebut, yang dulunya berada di Desa Banyubiru, sekarang menjadi wilayah Desa Baluk (Susanti dan Wati, 2008/2009:7).

Berdasarkan Wawancara dengan Informan Wenen (Wawancara 04 Februari 2011) tanah daerah berdirinya Pura Majapahit dan Masjid adalah tanah pemberian Anak Agung Ngurah Jembrana (Raja Jembrana I). Pura ini disepakati oleh semua pengiring termasuk yang beragama Islam yang juga ikut membantu dalam pendirian Pura, agar Pura ini diberi nama Pura Majapahit. Lebih lanjut  Wenen menuturkan bahwa pada saat pendirian Pura Majapahit diperkirakan sempat dihadiri oleh Raden Wong Agung Wilis. Hal ini dapat diterima dengan alasan bahwa setelah terbunuhnya Anak Agung Made Ngurah dan Parekan Pan Tabah, tiga hari kemudian Wong Agung Wilis datang ke Jembrana (Puri Jembrana) untuk menyampaikan kebenaran latar belakang masalah yang menimpa raja Macan Putih di Mengwi. Oleh karena itu, pada kesempatan tersebutlah bertepatan dengan proses pendirian Pura Majapahit.

Menurut informan Suarem (Wawancara 28 Januari 2011) didirikannya Pura Majapahit selain sebagai tempat suci untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa juga merupakan tempat untuk memuja para leluhur/raja-raja dari kerajaan Blambangan serta bermakna untuk mengenang eksistensi kerajaan Majapahit. Karena menurut Tim Penulis (1998:4) menyatakan pemilihan nama Pura Majapahit itu didasari dengan pemikiran bahwa raja dan kerajaan Blambangan masih ada hubungan secara vertikal (kekerabatan) dengan kerajaan Majapahit, yaitu pada khususnya keturunan Dalem Juru raja Belambangan ke I pada awal setelah masa pemberontakan kerajaan Blambangan oleh Arya Nambi putra dari Arya Wiraraja. Dalem Juru adalah putra dari Mpu Kepakisan/Dhang Hyang Kepakisan (Guru Spiritual Patih Gajah Mada) yang berasal dari Majapahit dengan diwujudkan melalui pelinggih Meru Tumpang Lima sebagai linggih Ida Bhatara Siwa yang merupakan sesuhunan kerajaan Majapahit dan Pelinggih Gedong Bata untuk linggih para Leluhur.

Pada bagian lain, selain alasan tersebut di atas, Susanti dan Wati (2008/2009:9) menyatakan alasan pemberian nama “Majapahit” pada Pura yang telah didirikan tersebut, dikarenakan pula bahwa rombongan pengiring raja Macan Putih merupakan keturunan dari masyarakat/penduduk asli Majapahit (Wong Majapahit). Namun dalam hal ini, berkaitan dengan hubungan vertikal antara kerajaan Majapahit dan kerajaan Blambangan didukung pula oleh Saputra (2007:52-60) dalam bukunya yang berjudul “Memuja Mantra”. Adapun kutipannya adalah sebagai berikut.

…nama Blambangan yang sampai saat ini melekat dalam benak masyarakat Banyuwangi tersebut berkaitan erat dengan nama sebuah kerajaan yang berdiri di wilayah Banyuwangi dengan pusat pemerintahan di daerah Macan Putih (sekarang termasuk wilayah kecamatan Rogojampi). Kerajaan Blambangan senantiasa menjadi ajang rebutan pengaruh antara kerajaan Jawa dan Bali, sehingga ia sering menjadi vasal kerajaan lain di Jawa dan Bali. Ketika Majapahit berkuasa, daerah Blambangan dikuasai oleh kerajaan Majapahit. Dalam perkembangannya, daerah itu diserahkan kepada Arya Wiraraja, karena ia dianggap bayak berjasa kepada Raden Wijaya. Setelah Arya Wiraraja meninggal, daerah itu kemudian diwariskan kepada putranya yang bernama Arya Nambi, pada tahun 1316 Blambangan melakukan pemberontakan kepada kerajaan Majapahit. Akan tetapi pemberontakan itu dapat dipadamkan oleh Patih Gadjah Mada. Kemudian, Patih Gadjah Mada mengangkat putra Dhang Hyang Kepakisan yang tertua, yakni Dalem Juru sebagai penguasa di Blambangan. Setelah kerajaan Majapahit runtuh wilayah Blambangan menjadi ajang rebutan  kerajaan Bali, Pasuruan, dan Mataram Islam….

Mendukung pernyataan Saputra, dalam babad sira arya kuthawaringin-kebontubuh dijelaskan pula sebagai berikut.

21/b Bali dengan segera menjadi junjungan rakyat Bali kemudian pada waktu merdhamasa, purnama bulan keempat (kapat) disana Patih Gajah mada melantik putra–putranya Sri Kresna Wang Bang Kepakisan setelah direstui oleh Raja Majapahit, diberangkatkan mereka masing–masing, adapun yang tertua dijadikan Raja di Blambangan, putra yang kedua bertahta di Pasuruan, yang ketiga seorang putri bertahta di Sumbawa, yang bungsu bertahta di Bali, bergelar Dalem Ketut Kresna kepakisan, pada tahun saka.  22/ayoganmunirwhaningbhwana’ (= tahun 1274 saka atau 3152 M)...., (Pengurus Pusat Pasemetonan Pratisentana Sira arya Kuthawaringin-Kubontubuh, 2007:12-13).

Sejalan dengan pernyataan Saputra dan dalam babad sire kuthawaringin-kubontubuh di atas, Mantik (2005:61) juga menjelaskan bahwasannya keturunan Dhang Hyang Kepakisan  merupakan cikal bakal raja–raja Blambangan dan juga raja–raja di Bali. Adapun kutipannya sebagai berikut.

…Bali dan Blambangan diperintah oleh raja yang berasal dari leluhur yang sama, Dhang Hyang Kresna Kepakisan, Brahmana Daha yang merupakan guru dari Patih Gajah Mada. Beliau memiliki empat orang putra, putra tertua (Sri Juru Kresna Kepakisan) dinobatkan sebagai raja Blambangan, sedang yang termuda (Dalem Ketut) menjadi raja di Bali. Ketika Dalem Batu Enggong memerintah di Sukasada (Gelgel) (1460–1552 M), yang memerintah di Blambangan adalah sepupunya (mindon bahasa Bali) Sri Juru Kresna Kepakisan.

Lebih lanjut diceritakan, di daerah berdirinya Pura Majapahit tersebut dahulu tumbuh kayu yang dipelihara menyerupai hutan guna tempat persimpangan Macan Putih (ancangan Ida Bhatara), dan disekitar Pura Majapahit inilah rombongan pengiring yang beragama Islam bertempat tinggal secara turun temurun hingga sekarang. Menurut informan Wenen (Wawancara 28 Januari 2011) sejak berdirinya Pura Majapahit yang diperkirakan pada tahun 1764 M, telah mengalami pemugaran sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1965 dan pada tahun 2006.

Berdasarkan Wawancara dengan informan Muhamad Jahurrahman (Wawancara 31 Januari 2011)  hubungan antara umat Hindu dan Islam dari dahulu hingga sekarang terjalin sangat baik dan kental yang tentunya dilandasi oleh rasa senasib dan sepenanggungan para leluhur, sehingga hal tersebut yang menjadi salah satu dasar toleransi umat Hindu dan Islam dalam keberadaan Pura Majapahit. Bagi mereka yang beragama Islam yang berada disekitar Pura Majapahit hingga kini masih ada sisa–sisa penggunaan bahasa Jawa Using.

Menurut Saputra (2007:xxxvi) Using berarti salah satu kelompok etnik yang mendiami dan menjadi penduduk asli wilayah Banyuwangi. Istilah Using berasal dari kata Sing (Tidak), yang sering juga diucapkan Using, Osing atau Hing. Secara historis, Lare Using atau Wong Banyuwangen adalah orang–orang yang tidak (Sing) turut mengungsi ketika terjadi perang Puputan Bayu (1771-1772) di Blambangan Banyuwangi. Jadi mereka tetap tinggal di wilayah ujung timur Jawa Timur itu.

Sampai saat ini telah menjadi warisan para penyungsung di Pura Majapahit sebagai wujud toleransi beragama, bahwa setiap piodalan/pujawali (Upacara- Upakara) di Pura Majapahit  tidak diperkenankan menggunakan ulam bawi (daging babi), sehingga para pengempon dan penyungsung hanya menggunakan daging ayam, bahkan dalam upacara Dewa Yadnya pada tingkat Bebangkit yang biasanya menggunakan daging babi, di dalam keberadaan Pura Majapahit hal itu tidak digunakan, yang digunakan sebagai penggantinya adalah daging bebek/ayam, hal itu dilakukan mengingat dalam keberadaan Pura Majapahit pada saat itu terkait dengan  umat Islam yang ikut memelihara keberadaan Pura Majapahit hingga saat ini (bersifat insidental). Umat Islam dari sejak berdirinya Pura Majapahit hingga sekarang (beberapa umat Islam) pada hari–hari tertentu sering menghaturkan bhakti di Pura Majapahit sesuai dengan adat dan cara mereka masing–masing.

Berdasarkan Wawancara dengan informan Murjani (Wawancara 31 Januari 2011) dijelaskan bahwa beliau yang selaku umat Islam juga sangat menghormati leluhur yang distanakan di Pura Majapahit, beliau mengatakan pada hari–hari tertentu dahulu leluhurnya sering pula menghaturkan kidung–kidung Jawa Using, yang disebut kidung Rengganis (Rengganis adalah seorang Dewi dalam dongeng Joko Wulur masyarakat suku Using Banyuwangi), namun kidung rengganis saat ini sudah tidak digunakan lagi. Lebih lanjut Murjani mengungkapkan bahwa di tahun 1930 kakek beliau yang bernama Sutiah yang sudah menganut agama Islam pernah menjadi Pemangku di Pura Majapahit.

Itulah riwayat singkat dari keberadaan Pura Majapahit yang berada di Desa Pakraman Baluk Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana yang kesakralannya sangat dihormati, baik dari umat Hindu dan Islam di daerah setempat maupun diluar daerah.

Matur Suksma
Semoga Bermanfaat bagi generasi muda Jembrana….

Keterangan:
Tulisan di atas "Sejarah Majapahit" adalah bagian dari kutipan hasil penelitian (Skripsi) pada Tahun 2011 di Pura Majapahit, yang berjudul "Toleransi Beragama di Pura Majapahit".




Tidak ada komentar:

Posting Komentar