Rabu, 17 Juni 2015

Sukses Melalui Tapa

Sukses!!!
Melalui “Pertapaan” Pikiran



Terlepas dari berbagai makna yang diberikan setiap orang pada kata “sukses”, setiap orang tentu akan setuju bahwa kita semua ingin mencapai sebuah kesuksesan di dunia ini, ada yang menginginkan sukses dalam karirnya, pendidikannya, usahanya dan berbagai macam jenis kegiatan dunia hingga spiritualitas. Dari berbagai macam keinginan-keinginan kesuksesan itu, banyak orang yang melupakan landasan berpijak untuk meraih kesuksesan. Akibatnya banyak yang salah jalan—tersesat. Ujung-ujungnya bukan kesuksesan yang dihasilkan, namun derita berkepanjangan yang melanda. Seperti kucing yang mengejar ekornya sendiri, terus berputar ditempat tanpa ada kepastian dan kejelasan apa yang kita cari pun tidak ketemu-ketemu. Penyakit setres, prustasi, struk ringan dan berat pun bisa jadi menhadiri dengan legowonya, akibatnya tidak hanya berdampak menjadi kemarahan kepada sahabat, saudara, cucu, anak, istri, orang tua, mbah lanang atau pun mbah wedok, bahkan Tuhan pun sering kena imbasnya. Tuhan sering terlihat tidak adil, tidak bijaksana, medit atau pelit alias tidak memurahkan rejeki dan lain sebagainya…..!!

Hindu sebagai agama yang bersifat universal, tentu ajaran-ajarannya yang bersumber dari Veda menyentuh segala sendi kehidupan manusia di bumi ini, termasuk hal-hal yang berbau duniawi semacam jalan menuju sukses. Veda sebagai sabda Tuhan tidak hanya membicarakan permasalahan adhiatmika dalam arti niskala atau yang tidak terlihat saja. Veda juga berbicara masalah guna vidya atau tentang ilmu yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup di dunia, walaupun pengetahuan adhiatmika tetap menjadi spiritnya. Permasalahannya, apakah kita berkehendak menggunakan jalan-jalan yang disediakan dalam Veda! Kemudian bagaimana komitmen kita dalam proses menjalankannya, karena setiap usaha untuk meraih kesuksesan membutuhkan kehendak dan komitmen itu.

Di dalam salah satu pustaka Veda, yakni Bhagavad Gita—Sri Krishna bersabda setidaknya ada tiga jenis pertapaan yang dapat dimaknai guna meraih kesuksesan. Pertapaan yang dimaksud bukanlah identik kita berada dalam sebuah hutan atau goa yang dipenuhi kelelawar, menggunakan kain putih atau kuning, tanpa alas kaki alias nyeker, badan kurus kering alias krempeng dan didampingi oleh binatang-binatang di hutan. Tidak demikian!!!. Pertapaan berasal dari kata “tapa”, tapa adalah pengekangan diri, tapi “pengekangan diri” berbeda dengan “dikekang”, “pengekangan diri” berangkat dari niat, dari tekad dan kehendak yang sungguh-sungguh dan bertanggungjawab serta berasal dari diri sendiri—tanpa paksaan dari pihak lain. Tapa dapat dilakukan dimana saja dan dalam rangka apa saja. Fungsi pertapaan dalam hidup ini adalah untuk menciptakan manusia yang dewasa, dewasa berarti berkarakter dewata. Selalu jernih dalam memaknai proses kehidupan. Tidak meneuruti segala keinginan indrya-indrya yang ada dalam diri. Singkatnya tapa akan melahirkan kemuliaan. Dalam bahasa sederhana tapa juga dapat diartikan pemahaman yang bijaksana dalam menjalani kehidupan. Ada tiga hal yang sekiranya harus dipahami dan dijadikan jalan untuk meraih kebahagiaan hidup atau kesuksesan yang berakhir mendamaikan.

Pertapaan Pikiran (Tapa Manasam)
Pertapaan yang pertama, di dalam Bhagavad Gita 17.16 disabdakan “kepuasan, kesederhanaan, sikap yang serius, mengendalikan diri dan menyucikan kehidupan adalah pertapaan pikiran”. Pikiran adalah hal utama yang harus diperhatikan dalam kehidupan, peran pikiran harus dipahami dalam meraih kesuksesan, karena pikiran adalah sentral dalam segala ucapan dan tindakan kita—itulah sebabnya pikiran disebut sebagai rajaindrya atau raja dari segala indrya dalam diri manusia. Pertama pikiran harus dilatih dengan “Kepuasan (Prasadah)”. Seseorang harus belajar untuk selalu puas akan apa yang dihasilkan dalam setiap kerjanya. Berpikir puas juga bukanlah alasan untuk tidak kerja secara maksimal. Kepuasan yang dimaksud juga bukan berarti menyombongkan diri atas hasil pekerjaan kita. Kepuasan dalam tapa pikiran ini berarti pikiran harus dilatih bahwa segala upaya membutuhkan proses dan bersifat berkelanjutan. Sehingga segala hasil dari segala upaya maksimal kita dalam meraih kesuksesan itu harus dihargai dengan kepuasan atau rasa bangga. Melalui penghargaan terhadap setiap usaha dalam upaya kita, akan menyebabkan kita semakin bersemangat dihari-hari berikutnya. Banyak orang yang sering mengeluh dengan hasil yang tidak memuaskan dalam setiap kerja mereka, karena mereka tidak ada rasa puas dalam arti yang baik dalam dirinya. Untuk menghindari rasa keluhan seperti ini, berpikirlah bahwa segala pekerjaan yang kita lakukan adalah persembahan terbaik dari diri kita kepada Sang Hyang Widhi. Segala kekurangannya pun adalah milik-Nya. Kemudian dihari-hari berikutnya kita mesti mempelajari dari kekurangan dan kelebihan dihari-hari kemarin atau apa yang disebut dengan svatah yang berarti belajar dari pengalaman.

Kedua, Kesederhanaan (Saumyatvam)—pikiran juga harus dilatih dengan hidup sederhana. Hal ini tentu sangatlah realistis, untuk meraih kesuksesan seseorang harus memulai dengan berpikir hidup sederhana. Orang yang selalu menghabiskan hasil kerjanya yang seharusnya ia tabung dalam rangka menggapai kesuksesan akan menjadi mimpi belaka jika tanpa kesedarhanaan hidup. Karena sifat material selalu menggoda setiap orang dan sering membuatakan mata bhatin kita. Kesederhanaan hidup dalam tapa pikiran ini pun menuntut seseorang untuk mengatur atau memanajemen pemasukan dan pengeluaran yang didapat dari segala usaha kita dengan sebaik-baiknya. Gunakan pengeluaran sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Karena banyak orang yang tidak mampu mencapai apa yang disebut kesuksesan dunia dan jatuh dalam kemiskinan diakibatkan oleh keinginan. Ada yang berucap “…saya ingin bahagia”, selama kita masih meletakkan kata “ingin” di tengah kata “saya” dan “bahagia” maka selama itu pula kebahagiaan tidak akan datang pada kita. Berarti semasih ada kata “ingin” kebahagiaan masih dalam ruang cita-cita saja. Tentu keinginan adalah sifat yang niscaya dalam diri, tapi ia harus dipahami sebagai bentuk sifat pelayanan atau bhakti bagi setiap bentuk apapun kegiatan kita.

Sifat keinginan tidak akan ada habis-habisnya. Keinginan ibarat api yang terus disiram minyak, ia akan terus semakin berkobar. Jika keinginan selalu dituruti, ia akan menjadi jurang penderitaan bagi diri kita sendiri. Para koruptor misalnya, mereka masuk dalam penjara diakibatkan tidak berkehendak melakukan tapa pikiran melalui kesederhanaan. Tidak puas dengan honor setiap bulannya, mereka pun mencari yang lebih dengan cara di luar jalan yang sattvika. Akhirnya, ketikbenaran tidak akan menang—penjara pun menjadi rumah mereka. Bahkan setelah kita mencapai apa yang kita cita-citakan dalam usaha atau kegiatan kita, kesederhanaan hidup pun harus tetap menjadi tali kekang di dalamnya. Kesederhanaan pun membuat kita tidak terikat dengan apa yang kita miliki. Kesederhanaan berdampak pada penyadaran akan material yang bersifat tidak langgeng. Kesederhanaan juga adalah bentuk kesiapan diri untuk meninggalkan material duniawi jika saatnya nanti telah menghinggapi kita.

Ketiga, Keseriusan (Maunam)—kemudian pikiran mesti dilatih dengan Keseriusan atau fokus dan disertai keyakinan yang penuh, jika pertapaan ini bisa dilakukan, jangankan materi di dunia ini para Dewa pun akan hadir dihadapan kita jika kita berkehendak dalam pemujaan kita. Artinya peran keseriusan atau fokus dalam setiap kerja kita sangat penting sekali. Perhatikanlah di antara Pandawa dan Kurawa, siapa yang paling disayangi oleh guru Drona, tiada lain adalah Arjuna. Arjuna selain ia sangat menguasai penggunaan panah, ia juga akhli dalam menguasai segala macam jenis persenjataan dibandingkan dengan saudara-saudaranya. Alasannya, karena Arjuna adalah siswa guru Drona yang paling serius atau fokus dalam belajar. Saat-saat guru Drona memberikan waktu untuk bermain kepada siswa-siswanya, Arjuna tidak menggunakan waktu itu terbuang sia-sia. Arjuna menggunakan waktu bermainnya untuk melatih diri. Bahkan suatu malam ketika semua saudara-saudaranya tidur dengan lelap, Arjuna belajar memanah di malam hari. Itulah sebabnya saat perang Bharata terjadi, Arjuna sukses menghalau kelicikan pasukan Kurawa, ketika pasukan Kurawa menyerang pasukan Pandawa di malam hari. Pasukan Kurawa menduga bahwa Arjuna akan kalah jika bertarung di malam hari. Ternyata tidak, akibatnya pasukan Kurawa pun lari kucar-kacir di hutan belantara. Bahkan akibat keseriusan Arjuna, hanya Arjuna yang diberikan anugerah senjata sakti Brahmastra oleh guru Drona. Tidak ada cahaya di siang hari tanpa matahari, begitulah ibaratnya—tiada kesuksesan tanpa keseriusan.

Keempat, Pengendalian Pikiran (Vinigrahah)—maksud pikiran harus dikendalikan dalam meraih kesuksesan, hal yang paling penting dalam pengendalian ini adalah pengendalian pikiran terhadap hasil dari usaha kita. Itu berarti pikiran tidak dibenarkan terikat pada hasil kerja yang sedang kita lakukan. Kelemahan manusia di zaman kali adalah ketika ia mengikat dirinya dengan segala hal-hal duniawi. Tapa pikiran melalui pengendalian pikiran ini menjadi penting karena pikiran yang terikat akan menjadi semacam budak saja. Apapun yang terikat pasti tidak akan memiliki kebebasan. Ia akan diatur kesana dan kemari oleh material dalam wujud keinginan. Bahkan kesuksesan duniawi pun tidak boleh mengikat diri kita. Jika terikat pada hasil, seseorang dalam usaha duniawinya akan selalu resah setiap saat. Seperti para petani misalnya, sebelum ia menanam padi ia selalu berpikir “….berapa hasil panen saya nanti…., apakah saya akan untung atau saya akan rugi..”. “Bekerjalah… hasil tak perlu kau risaukan!!!” kata Sri Krishna. Terikat akan hasil hanya menambah kerisauan kita saja. Kita hanya bertugas untuk bekerja sebaik-baiknya. Berusaha menujukkan kemampuan untuk kualitas yang terbaik. Ketika waktu membajak sawah datang, tugas kita membajak dengan sebaik-baiknya, ketika waktu membersihkan rumput disela-sela padi datang, lakukan dengan baik.

Pertapaan pikiran melalui pengendalian pikiran terhadap hasil dalam usaha kita merupakan identitas kemanusiaan kita yang sesungguhnya. Manusia bukan binatang dalam arti yang sesungguhnya. Jika binatang diperintahkan melakukan sesuatu semacam sirkus, ia akan dihadiahi hasil berupa makanan. Artinya setiap usaha yang dilakukan binatang sirkus diyakini olehnya akan menadapat hasil makanan atau untung. Berbeda dengan manusia, manusia tahu bahwa setiap usaha yang ia lakukan tidak selamanya untung dan rugi. Bisa saja untung dan bisa saja rugi. Kesadaran kerja tanpa terikat akan hasil adalah tapa pikiran yang sangat membangun kekuatan mental seseorang dalam semangat kerjanya. Seseorang yang tidak terikat akan hasil atau sadar bahwa tugasnya adalah bekerja sebaik-baiknya akan selalu terjaga dalam gelombang untung dan rugi. Saat ia mendapat untung, ia akan bersyukur dan ketika ia rugi ia pun berusaha kembali dengan semangat yang sama. Tidak ada kegelisahan disaat-saat seperti itu, apalagi sampai menambah daftar unit gawat darurat di rumah sakit akibat penyakit darah tinggi kambuh dikarenakan tegang, yang tidak siap menerima gelombang untung dan rugi. Jika semua jenis tapa pikiran ini dapat dilakukan oleh kita, kesemuanya inilah kelak yang akan dapat tetap menyucikan hidup (Samsuddhih) di dunia dalam setiap usaha-usaha untuk meraih sukses. Hidup yang suci adalah hidup yang diliputi oleh kebijaksanaan dalam segala hal.




1 komentar: