Selasa, 23 Juni 2015

Upavasa

Hakekat Upavasa


Keberadaan puasa sesungguhnya adalah sebagai disiplin spiritual. Sebagai disiplin, puasa ini dilakukan hampir disetiap agama yang ada di dunia. Puasa di dalam Hindu disebut Upavasa. Upavasa adalah bagian dari tapa—pengendalian diri dari nafsu-nafsu duniawi dalam sebuah disiplin spiritual. Upavasa berasal dari kata “Upa” yang berarti “Dekat” dan “Vasa” yang berarti “Kuasa―Penguasaan”. Upavasa dalam pengertiannya adalah upaya untuk dekat dengan sifat-sifat ke-Tuhan-nan melalui penguasaan diri dari makanan. Oleh karenanya upavasa tidak seharusnya dikait-kaitkan dengan pahala dan dosa. Tidak upavasa—dosa. Melakukan upavasa—berpahala. Gaya berpikir itu hanyalah untuk anak-anak saja, agar mereka termotivasi untuk melakukan upavasa itu. Jika telah Devasa, upavasa harus dipahami sebagai upaya disiplin spiritual untuk keseimbangan jasmani dan rokhani. 



Dilihat dari arti kata upavasa, upavasa memiliki makna....


  • Upavasa adalah upaya untuk mengistirahatkan mekanisme tubuh kita atau khususnya   mekanisme pencernaan kita. Badan butuh istirahat dan itu antara lain bisa dipenuhi dengan melakukan upavasa. Kendati demikian upavasa bukanlah kebutuhan badan saja. Energi yang dibutuhkan oleh badan dan diperolehnya lewat makanan dan minuman digunakan pula oleh otak untuk berpikir dan oleh jiwa untuk merasakan sesuatu. Oleh karena itu, pada saat badan berpuasa, pikiran dan perasaan pun ikut berpuasa.
  • Upavasa bukanlah pindahnya jam makan atau jam minum karena kewajiban, ketidak berdayaan atau peraturan. Upavasa paksaan semacam itu tidak pernah mengistirahatkan pikiran dan perasaan. Keduanya bahkan tambah aktif dan bergejolak karena tidak memahami apa yang dikerjakan oleh badan, tidak heran jika dalam keadaan seperti itu yang terbayang justru makanan dan minuman. Kemudian badan pun tidak memperoleh manfaat semestinya. Saat berbuka upavasa banyak yang akhirnya makan berlebihan, sehingga menjadi liar.
  • Melakukan upavasa harus dengan kesadaran. Penuh kesadaran akan manfaatnya bagi tubuh, bagi pikiran, bagi perasaan. Bagi keseluruhan pribadi kita. Upavasa tidak membantu siapa-siapa kecuali diri kita. 
  • Upavasa tidak hanya terkait dengan makanan dan minuman saja. Makan dan minum adalah salah satu pekerjaan indria manusia. Masih ada indra lainnya yang “suka” makan dan minum yang membutuhkan upavasa juga. Bagi telinga mendengar itulah makanan dan minuman. Bagi mata apa yang dilihatnya itulah makanan dan minuman. Bagi hidung, apa yang tercium itulah makanan dan minuman. Bagi kulit apa yang dirasakan itulah makanan dan minuman. Setiap indria yang melakukan makan dan minum juga membutuhkan upavasa. Setiap indria membutuhkan istirahat.
  • Pengendalian hawa nafsu, pengendalian diri, itu pun upavasa. Melihat orang makan dan minum, bila kita tergoda dan menjadi batal upavasa kita tidak dibenarkan menyalahkan siapa-siapa kecuali diri kita sendiri dan kelemahan diri kita, Apalagi menghancurkan warung makanan milik orang lain yang digunakan sebagai sarana untuk mencari biaya penghidupan. Tentu sebuah kebodohan jika kita menyalahkan orang lain.

       


Tidak ada komentar:

Posting Komentar