Selasa, 16 Juni 2015

Putih Kuning


Spirit Warna Putih Kuning

“Berkibarnya Bendera Kemerdekaan”

Dewasa ini jika diperhatikan dengan cermat, banyak sudah diantara kita sebagai umat Hindu di Bali melihat sarana ritual dengan pengertian yang biasa-biasa saja. Terutama para remaja Hindu yang datang ke sebuah tempat suci dalam melakukan ritual, kecenderungannya hanya merasa membutuhkan pada bagian sembahyang sebagai kewajiban saja—tidak lebih. Selain tidak ada dorongan dari dalam diri untuk mengetahui makna dari begitu banyaknya sarana ritual, peluang dan ruang untuk bertanya lebih sering dikorbankan kepada penampilan barang-barang elektronik. Padahal kita mengetahui bahwa semua sarana upacara dalam Hindu mengandung makna filosofis yang sarat dengan unsur dan tujuan pendidikan. Tetua Bali dahulu telah menyediakan begitu banyaknya  hari suci Hindu, dengan begitu banyaknya sarana upacara bukanlah semata-mata berniat untuk membebani anak dan cucu-cucunya di masa depan. Sungguh tidak demikian!!!. Ada banyak pesan-pesan suci di dalamnya. Ada banyak taburan mantra-mantra Veda dalam semua simbol-simbol ritual Hindu—guna menjalani kehidupan di dunia sekala maupun niskala dengan baik. Harapannya adalah, melalui pesan-pesan suci itu manusia Hindu menjadi kaya dengan nilai-nilai moralitas yang baik dan terjaganya sumber daya manusia yang unggul. 

Warna Putih Kuning pun demikian. Kedua warna ini sering mendominasi dalam setiap ritual Hindu di Bali. Warna putih dan kuning selalu berada berdampingan—terasa sulit melihat hilangnya salah satu warna dalam setiap ritual. Seolah-olah ada semacam rajutan yang tidak terlihat oleh mata jasmani di balik keberadaan dua warna ini. Kita pun harus percaya bahwa dari dahulu kala, Tetua Bali memang sering menyimpan berlian yang bersinar di dalam setiap simbol-simbol. Baik simbol-simbol itu berupa kata-kata, tindakan maupun benda. Ini pun bukan berarti tetua Bali sangat pelit. Tidak!!! Harus ada kehendak dari diri kita untuk membuka—membutuhkan kehendak untuk membuka diri dalam memahaminya sebagai kesungguhan adalah pesannya. Hanya dengan kesungguhan berlian itu akan bermakna bagi setiap orang. Jika hanya biasa-biasa saja kehendak kita, maka berlian itu tidak lebih tampak seperti kotoran binatang yang mengganggu indera penciuman saja. 

Oleh karena itu, tidak perlu lagi menciptakan simbol-simbol baru. Matahari telah bersinar setiap hari, kita hanya membutuhkan upaya sedikit saja untuk membuka jendela rumah agar merasakan hangatnya sinar itu. Sangat banyak para wisatawan dari belahan bumi bagian barat menginginkan sinar berlian itu di Bali. Mereka datang karena sinar yang menakjubkan itu. Kita pun tidak boleh melepaskan, apalagi menjualnya untuk membeli atau menukar dengan budaya yang mereka bawa dari barat. Rajutan absolute warna putih kuning adalah salah satu simbol yang menyimpan berlian indah itu. Putih kuning sejatinya menyiratkan pesan bagi setiap manusia dalam memahami hakikat hidup, kemudian mengetahui landasan dalam setiap gerak berpikir, berkata dan bertindak dalam kehidupan. 

Melihat Putih Kuning dari sejarah Nusantara….
Warna putih kuning pada dasarnya berangkat dari sejarah Nusantara. Dalam sejarah Nusantara kita pernah mengenal dua agama besar yang hidup harmonis dan rukun, kedua agama ini adalah Shiva dan Budha. Agama Shiva diwakili dengan warna Putih dan agama Budha diwakili dengan warna Kuning. Namun tidak ada maksud diskriminasi dalam perbedaan kedua warna ini. Perbedaan kedua warna ini adalah lambang yang berangkat dari filosofis masing-masing agama. Warna Putih berarti kesucian—yang disebut suci adalah Shiva itu sendiri. Dalam pengertian ini kesucian itu juga berada dalam diri setiap manusia sebagai Shiva-Atman. Sedangkan warna kuning adalah simbol kebijaksanaan. Warna kuning berangkat dari Sang Buddha sebagai simbol kebijaksanaan—simbol ia yang sudah terjaga, ia yang sudah sadar akan kesunyataan di balik sesuatu di alam ini, ia yang mampu mengendalikan musuh-musuh dalam dirinya melalui tapa yang tekun sehingga kemuliaan hidup diraih; angkuh, serakah, kesombongan dan marah adalah kerikil tajam bagi kemuliaan diri yang harus dipahami.

Bukan hanya dalam hal spiritual saja, di bidang corak dan seni bangunan antara agama Shiva dan Budha pun sangat menyatu. Hal ini dapat kita saksikan melalui Candi Agung Paramabrahman [Prambanan] dan Candi Agung Bhumisambara [Borobudur]. Dimana arti dari kedua nama Candi ini mengisyaratkan tentang alam rokhani [Parama] dan dan alam jasmani [Bumi], antara spiritual dan material yang harus dipahami dengan baik dan benar. Rajutan-rajutan Shiva Budha semacam ini terjadi hingga kerajaan-kerajaan besar berikutnya seperti kerajaan  Kediri, Singhasari dan Majapahit. Melihat kenyataan sejarah ini, para Tetua Nusantara seolah-olah berpesan “Kita tidak akan mencapai kedamaian jika Shiva Budha dipisahkan…”. Shiva Budha ibarat api dan panasnya, ibarat air dan basahnya, ibarat bukit dengan warna hijaunya—mencapai Shiva Budha berarti mencapai kesempurnaan akan kebahagiaan, kedamaian dan kesejahteraan. 

Sebagai bukti, dari rajutan Shiva Budha inilah Mpu Tantular mempersembahkan kalimat sakral “Bhineka Tunggal Ika; Hanya ada satu Jiwa, tapi bentuk badannya banyak. Ada badan yang disebut Yosep, Gandhi, Ahmad, Sidharta, Yesus. Ketika badan itu hancur, sebutan itu pun lenyap. Tetapi Jiwa tetap langgeng” yang kemudian diwariskan bagi Nusantara, bagi Indonesia. Namun banyak yang tidak paham dan bahkan berpura-pura untuk tidak paham karena kepentingan kelompoknya, agamanya dan kepentingannya pribadi. Huuuuh!! keterluan mereka itu. Padahal kalimat sacral itu mampu membangun kedamaian dalam keragaman. Dan sampai akhirnya setelah runtuhnya Majapahit ajaran Shiva Budha hadir di tanah Bali melalui para Tetua. Bahkan hingga kini ajaran ini semakin susah dipisahkan. Perbedaan-perbedaan kecil yang barangkali ada, hanyalah perbedaan tradisi warisan leluhur di wilayahnya [desa kala patra] dan dengan metode yang tumbuh disana.

Warna Putih Kuning di Tanah Bali….
Sekali lagi perhatikankanlah dengan seksama warna Putih Kuning di Tanah Bali—di Tanah Persembahan. Dahulu kala hingga kini dari badan manusia, arca, bangunan sanggah atau pura, pohon, batu, binatang, besi yang disakralkan atau pada hari-hari yang disucikan tidak terlepas dari balutan kain yang berwarna putih dan kuning. Seolah-olah warna putih dan kuning menjadi ciri khas warna tanah Bali ini. Di tanah Bali ini semua isi bumi selain manusia pun ingin dimanusiakan, ingin dimuliakan—yang wajib dihormati melalui simbol warna putih kuning ini. Sehingga warna putih kuning saat ini semacam bukan lagi menunjuk sebagai simbol dua agama yang berbeda, tapi telah bermanifestasi menjadi sosok penuntun diri dalam rangka menuju penghormatan, kasih sayang, cinta, kebersamaan, kedamaian bagi semesta raya. 

Terlebih lagi banyak tetua Bali mengidentifikasikan warna putih kuning dengan filosofi luhur—hulu dan teben, kangin dan kauh, spiritual dan material, rokhani dan jasmani. Hulu, kangin, dan spiritual yang dimaksud adalah arah gunung. Gunung adalah simbolisasi Lingga atau unsur kejiwaan—penyebab utama alam semesta. Sedangkan teben, kauh dan material yang dimaksud adalah arah laut. Laut dalam konteks ini adalah simbolisasi Yoni atau unsur badaniah alam semesta. Orang yang tidak mengenal arah kangin dan kauh dalam pengertian ini adalah sebenarnya sebuah sindiran bagi orang yang tidak mengetahui hakikat hidup yang sesungguhnya. Demikian pula orang yang tidak memahami hakikat warna putih kuning adalah orang yang dianggap tidak sadar tentang arti hidup yang sesungguhnya—tidak memiliki tujuan yang jelas, sehingga diidentikkan dengan orang yang tidak waras atau gila. Namun orang yang memahami hakikat hidup yang sejati melihat segalanya sebagai jiwa. Sedangkan badan hanyalah perangkat keras yang tidak langgeng. Jiwa-lah hakikatnya.

Kemudian tidak salah jika banyak orang di luar Bali menganggap seluruh alam Bali berjiwa—menjadikan pulau kecil ini sebagai obat bagi perjalanan kehidupan. Pohon, batu, sungai, laut, gunung dan bukit di Bali seolah hidup dan sedang berbicara. Yakinlah anggapan ini tidak semata buaian atau rayuan belaka. Warna putih kuning adalah salah satu spirit yang telah membawa berkah luar biasa melalui penghormatan dari banyak orang di luar Bali itu. Spirit dari balutan warna putih kuning yang dirasakan di tanah Bali memang susah diterjemahkan melalui kata-kata, seperti musafir di padang pasir yang sedang meminum segelas air bersih—hanya bisa dirasakan. 

Tentu ada banyak Tetua Bali yang menaburkan benih-benih spirit putih kuning ini, dari Guru Besar Rsi Markandeya, Mpu Kuturan, hingga Dang Hyang Nirarta dan Guru-guru suci lainnya. Warna putih kuning yang mereka bawa ke tanah Bali telah berbuah manis hingga kini. Buah manis itu bukan hanya menjadikan alam Bali yang sering menjadi obat bagi kebanyakan orang barat yang datang. Ketika yang terakhir Bali digoncang oleh Bom dari para teroris menyisakan pesan bagi sejarah bahwa orang Bali tidak melawan aksi itu dengan hal-hal yang sama—tidak membalas bom dengan bom. Tanpa banyak yang menyadari bahwa orang Bali sebenarnya masih merasakan hakikat balutan warna putih kuning di dalam dirinya. Balutan yang ia dapatkan semenjak orang Bali dikandung oleh ibu hingga kematian kelak…!!. Tidak bingung, tidak resah apalagi gelisah. Bahkan banyak yang mengajak untuk intropeksi diri, mulat sarira, “meneng ning… meneng ning—berpikirlah dengan jernih mengapa ini bisa terjadi…”. Kebijaksanaan ini pun masih bisa dirasakan di tanah Bali walaupun kini banyak yang telah mulai meragukannya lagi… Memang kibijaksanaan ini sering terlihat pilu, namun lagi-lagi kebijaksanaan ini adalah salah satu bentuk penghormatan orang Bali yang diwariskan dari Tetua Bali melalui spirit balutan putih kuning bagi kemanusiaan dalam melawan keraksasaan.

Kebijaksanaan Kuning Mesti Dijaga dengan Kesadaran Putih…. 
Tidak berbeda dengan orang Bali, sejenak ingatlah salah satu kejadian di medan kuruksetra, dimana Arjuna sedang merasakan kegalauan maksimal. Arjuna berkata pada Krishna “Ohhh…. Kanda Vasudewa Sang Penguasa Alam Semesta ini, aku galau.... disana aku melihat kakek yang sangat mencintaiku, beliau sering mengelus kepalaku dengan kasih sayang…, disana juga ada guru yang sangat aku hormati, yang telah menumpahkan semua ilmunya padaku… Jujur aku tidak sanggup berperang, aku tidak sanggup Kanda…”. Arjuna kala itu masih melihat jutaan badan-badan yang akan menjadi lawan tandingnya, kebijaksanaan yang sebelumnya ada untuk membela dharma seketika lenyap dengan ribuan alasan badaniah. Busur Ghandiva anugerah Dewa Agni yang ada di tangannya terlepas seketika. Kemudian ia bersujud pada Krishna dan berkata dengan suara gemetar, “walaupun aku membenci Duryodhana, tapi ia adalah saudaraku Krishna, dia adalah keponakan dari ayahku…”.


Salah satu dari sabda Sri Krishna dari kegalauan Arjuna adalah mengenai landasan dan alur meraih kemerdekaan murni “Atman itu harus diperkuat agar dapat menguasai budhi, budhi menguasai manah dan manah menguasai indria” [Bhagavad Gita 3.42]. Kita sebagai manusia harus menyadari bahwa dasar sebuah “kemerdekaan” berakar pada kesadaran akan Jiva—yang hidup dan menjiwai badan dan seluruh sifat kebendaan di alam semesta ini. Jiva atau Atman yang merupakan bagian kesempurnaan dari Hyang Maha Sempurna. Dengan kesadaran Jiva kita akan cenderung memberikan sinar penerangan pada Budhi [sifat ke-Budha-an] atau cara berpikir. Cara berpikir yang bijaksana dalam memahami segala keberadaan yang tercipta di dunia ini. Sehingga kelak dari budhi ini pikiran menjadi lebih tenang dan penuh pertimbangan dalam melepaskan indria-indria untuk bergerak bagi kehidupan. Inilah filosofis paduan warna putih dan kuning disetiap tempat suci atau pada hal-hal yang disucikan. 

Semua mengarah pada sifat kedewataan, sifat yang mulia. Selalu dalam hal ini warna putih diselimuti oleh warna kuning. Warna putih adalah interpretasi dari Shiva, dan warna kuning adalah interpretasi dari ke-Budha-an. Pesan ini pun dapat diterjemahkan bahwa sebelum ke luar untuk menuju ke warna “Kuning” maka kesadaran “Putih” atau Atman—kesucian harus menjadi landasan menuju sifat ke-Budha-an atau budhi—kebijaksanaan. Artinya seseorang harus memahami bahwa kesadaran Jiva ini sebagai hal utama dalam prosesnya. Galang atau penerangan dulu baru mencapai kemuliaan. Galungan dulu baru bertemu Kuningan. 

Berbeda dengan Duryodhana, Duryodhana adalah simbol korban materialisme, itulah sebabnya ia lahir berupa gumpalan daging. Orang yang berpikir hanya mengacu pada keinginan akibat kilauan material tidak akan pernah merasakan kedamaian, apalagi kebijaksanaan—ia pun akan bingung dan hancur. Seperti halnya dua warna dalam telur yaitu putih dan kuning, kuning telur selalu dibalut  oleh warna putihnya, ini adalah personifikasi lain dari kebijaksanaan yang mesti selalu dijaga oleh kesadaran akan Jiva. 

Memahami kesadaran Jiva atau Kebenaran Sang Diri maka kebahagiaan tidak akan terkubur dalam tempat kehampaan—dari tempat realitas kehidupan. Karena hakikat kebenaran Jiva haruslah ditemukan dan diungkapkan terlebih dahulu, baru kemudian kebenaran dalam agama dapat memberikan penerangan dan arah bagi budhi, pikiran dan indria. Sehingga kunci dalam memahami hakikat kesemestaan yang penuh keragaman ini kita pegang dengan kedamaian, di tempat ini tidak lagi kita temukan gaya yang membeda-bedakan atau diskriminasi terhadap perbedaan. Tidak ada! Semua kita sadari dengan begitu ringan, seperti ringan tanpa beban kapas yang diterbangkan oleh angin. Setelah membuka jendela rumah yang sekian lama tertutup, Arjuna pun mengangkat senjatanya dan “membunuh” musuh-musuhnya. Sehingga Arjuna bertemu dan menyatu di puncak gunung kemenangan dan kebahagiaan. Dan inilah kemerdekaan sejati. Kemerdekaan yang bukan hanya untuk diri sendiri, tapi kemerdekaan bagi semua. Kata semua pun bukan hanya berarti manusia saja, tapi seluruh alam semesta. Dimana saja spirit bendera yang berwarna putih dan kuning ini dikibarkan, maka kemerdekaan kehidupan ada disana.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar